Langsung ke konten utama

13 Gepeng, Terjaring Razia Dinas Sosial di Banda Aceh


Banda Aceh 17/10/18 – Dinas Sosial Aceh melakukan razia terhadap gelandangan dan pengemis (Gepeng) yang berkeliaran di wilayah Kota Banda Aceh, Selasa (16/10/2018).
Razia tersebut ikut melibatkan Satpol PP Provinsi Aceh, Satpol PP Kota Banda Aceh, serta personel Polresta Banda Aceh. 

Wilayah yang dirazia tersebut terdiri dari beberapa titik yang dikenal sebagai tempat mangkalnya para gepeng, seperti Pelabuhan Ulee Lheue, Lamjabat Kecamatan Meuraxa, Simpang Dodik, Simpang Tiga Lamteumen, Keutapang, Simpang Lampeuneruet, Simpang AMD Batoh, Simpang Surabaya, Simpang Lima, Simpang Mesra, Cempaka Lima, Pasar Peunayong, Pasar Aceh, Simpang Tujuh Ulee Kareng, dan Simpang BPKP.

Para petugas gabungan berhasil mengamankan 13 orang gepeng  yang kemudian dititipkan di UPTD Rumoh Sejahtera Beujroh Meukarya (RSBM), di Gampong Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar dan untuk dilakukan pembinaan, serta 3 orang anak Punk yang diamankan di sel Satpol PP Provinsi Aceh. 

Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM mengatakan, razia terhadap penyandang tuna sosial atau gepeng sudah menjadi rutinitas pihaknya demi menjaga ketertiban umum dan menciptakan kenyamanan di tengah-tengah masyarakat Aceh, khususya di Kota Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi Aceh.

Alhudri mengatakan, jika sebatas razia tentu tidak cukup,  mesti ada langkah-langkah berikutnya yang harus ditempuh seperti pembinaan agar mereka yang sudah terjaring razia tidak lagi kembali menjadi gepeng. 

“Kita akan bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota yang merupakan daerah asal dari para gepeng tersebut nanti,” kata Alhudri yang didampingi Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Aceh, Isnandar AKs M.Si.  “Namun sebelum dikembalikan ke kabupaten/kota, para gepeng tersebut terlebih dulu dibawa ke tempat UPTD Rumoh Sejahtera Beujroh Meukarya (RSBM) untuk kita bina,” katanya.

Alhudri mengaku prihatin dengan maraknya gepeng yang jumlahnya tidak hanya di Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi tapi juga di tiap kabupaten/kota di Aceh. Oleh karena itu Pemerintah Aceh akan terus mendorong dan melakukan pembinaan agar jumlah gepeng tersebut bisa dikurangi.

“Sebenarnya kalau kita bilang faktor ekonomi tidak semua juga, tapi lebih banyak kepada penyakit masyarakat,” katanya. Karena kata Alhudri, kalau dikatakan lapangan kerja sempit di Aceh itu mustahil sebab banyak sekali ditemukan tenaga kerja buruh yang didatangkan dari luar Aceh. “Jadi tidak mungkin tidak ada lapangan kerja, masalahnya kembali ke kita mau nggak kita kerja,” tambahnya. Oleh sebab itu, kata Alhudri, tujuan digelarnya razia ini sebagai bentuk pemberdayaan sosial kepada masyarakat agar tidak ada lagi gepeng yang berkeliaran di tempat-tempat umum seperti lampu merah, dan tempat-tempat umum lainnya, agar adanya kenyamanan dan ketertiban di Aceh.  “Karena ini yang menjadi fokus razia kita,” harapnya.

Alhudri juga berpesan kepada masyarakat Aceh yang ingin bersedakah agar memberikan sedakahnya  pada orang dan tempat yang tepat.

“Saya pikir lebih baik kita bersedekah pada tempat yang tepat lah, seperti fakir-miskin melalu badan penyalurnya, ke masjid-masjid atau tempat lain. Karena jikakita terus memberi kepada gepeng maka mereka jadi keenakan untuk meminta-minta,” pungkas Alhudri.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...