Langsung ke konten utama

Dinsos Aceh Pulangkan Warga Punge Setelah 2 Tahun Ditahan di Malaysia


Banda Aceh-  Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial Aceh memulangkan Rusli (39), warga Punge, Banda Aceh, setelah 2 tahun mendekam sebagai tahanan di Imigrasi Peneng, Malaysia. Informasi ditahannya Rusli diperoleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Malaysia dari Kantor Imigrasi Malaysia yang kemudian diteruskan ke Pemerintah Aceh. 
Menindaklanjuti informasi tersebut, Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT memerintah Kepala Dinas Sosial Aceh, Drs Alhudri MM untuk mengurus proses pemulangan Rusli kembali ke Aceh. Sementara Alhudri menugaskan Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS), Rohaya Hanum SE untuk berkoordinasi dengan KJRI Malaysia.
Kemudian, Rusli diantarkan langsung oleh Imigrasi Malaysia bersama KJRI ke Bandara Kualanamu Sumatera Utara untuk diserahkan ke Pemerintah Aceh.
“Kami mewakili Pemerintah Aceh sudah menerima Rusli dari KJRI Malaysia tadi siang. Saya bertindak mewakili kepala Dinas Sosial Aceh,” ujar Rohaya Hanum , Kamis (8/11/2018).
Menurut Rohaya, tidak ada riwayat kejahatan yang dilakukan Rusli di Malaysia, dia ditangkap karena tidak memiliki identitas dan dokumen resmi sebagai warga negara asing di Malaysia. Rusli di Malaysia tinggal sebatangkara karena keluarganya semua sudah terkena musibah tsunami pada 2004 silam
“Dia dibawa oleh keluarganya ke Malaysia sejak kecil, saat itu masih berumur 5 tahun . Kemudian dia dibuatkan KTP palsu oleh pihak keluarga. Namun, sebelum tsunami keluarganya pulang ke Banda Aceh sehingga menjadi korban tsunami dan tinggallah Rusli sendiri di Malaysia hingga dia ditangkap oleh pihak keamanan setempat,” kata Rohaya.
Di Aceh, karena Rusli  tidak lagi memiliki tempat tinggal maka akan diinapkan di Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) milik Dinas Sosial Aceh di Ladong, Aceh Besar.
“Karena dia tanggungjawab negara maka akan kita tampung di Liposos milik Dinas Sosial Aceh di Ladong,” kata Rohaya Hanum yang mengaku sedang dalam perjalanan pulang ke Aceh. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...