Langsung ke konten utama

Udara Kita Kian Tercemar


Oleh M.Ar-Raffi Parinduri
Kelas VII-1 SMP Negeri 3 Ingin Jaya, Aceh Besar

Pada hari Minggu, aku pergi bermain ke rumah temanku. Tiba-tiba, di tengah perjalanan aku melihat sebuah kenderaan bermotor yang sedang melaju dengan mengeluarkan asap hitam yang mengepul keluar dari knalpotnya. Asap itu sangat mengganggu nafasku.  Pikiranku berbicara, mengapa kenderaan itu mengeluarkan asap hitam yang mengepul menutupi jalan? Mengapa pula pengendara kenderaan itu tidak merasa bahwa asap kenderaannya itu sangat mengganggu pengguna jalan yang juga sedang di jalan? Aku sendiri sangat merasakan dampak buruk dari asap itu. Hidungku terasa berat menahan bau dan asap yang juga mengganggu penglihatanku. Asap kenderaan itu, benar-benar  membuat udara di jalan tercemar. Ya, asap kenderaan itu bisa menimbulkan pencemaran udara yang merusak atau mengganggu kesehatan orang. Namun, mengapa masih ada orang yang tidak sadar kalau ia atau mereka selama ini mencemari udara dengan cara seperti itu. Bukankah asap-asap dari keenderaan seperti ini bisa membuat langit-langit bumi, karena asap kenderaan itu bisa mengurangi lapisan atsmosfir. Bila ini terus dibiarkan, maka bisa mendatangkan bencana.

Tak lama kemudian, sekitar 1 kilo meter dari rumah temanku, lewat sebuah truk besar.  Truk itu rupanya sedang beraktivitas meratakan tanah untuk pembangunan rumah. Keadaan yang sama, kembali muncul di depan mataku. Truk yang sangat besar itu juga mengeluarkan asap hitam tebal dari knalpotnya. Tak jauh dari truk itu,  aku melihat seseorang melewati asap hitam itu. Ia tampak terbatuk-batuk, karena terkena asap itu. Kembali hatiku berbicara,  terlalu. Pemilik truk itu sangat tega membuat orang lain menderita karena asap knalpot truk itu. Ia tidak peduli kalau asap hitam yang keluar dari knalpot itu sangat mengganggu orang lain. Aku terus melanjutkan perjalanan ke rumah teman.

Setelah tiba di rumah temanku, aku memanggil temanku untuk bermain. Kami kemudian pergi ke desa. Keadaan di desa tampak sunyi dan sejuk. Mungkin karena tidak terlalu banyak mobil atau kenderaan yang lalu lalang. Karena tidak banyak kenderaan, maka udaranya terasa segar. Tidak banyak kenderaan yang mencemari udara. Berbeda sekali suasana di kota dan desa. Sangat jauh bedanya.

Kami melihat dan merasakan perbedaan itu. Paling tidak, kondisi udara di kota sudah banyak tercemar oleh asap kenderaan, sampah yang tidak diurus dengan baik, juga karena semakin padatnya jumlah penduduk kota. Apalagi pembangunan rumah yang menggunakan kaca, semakin membuat kondisi udara di kota semakin panas. Penduduk kota semakin banyak yang menggunakan kenderaan seperti sepeda motor, mobil dan becak yang terus mengeluarkan asap dan mengotori udara.

Pencemaran udara sebenarnya juga terjadi di desa. Misalnya, ketika banyak warga yang membakar sampah, membakar hutan yang katanya untuk membersihkan lahan. Semua tindakan itu, sangat mempengaruhi keadaan udara. Karena asap yang keluar dari pembakaran sampah dan lahan tersebut dapat menyebabkan pencemaran udara dan mengganggu kesehatan. Ini adalah perilaku buruk yang ada di desa. Itulah yang aku saksikan.

Melihat kondisi seperti itu, temanku bertanya padaku.  Bagaimana cara mencegah hal itu?. Aku menjawab, kita harus mengajak masyarakat kita agar sadar lingkungan. Kita harus membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kondisi udara yang sehat dan segar. Kita juga harus mulai dari diri kita sendiri dahulu, lalu kita mengajak orang lain melakukan hal yang sama.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...