Langsung ke konten utama

Sekda Harapkan Dokter Kecil Jadi Kader Kesehatan dan Kebersihan di Sekolah



Banda Aceh – Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia mengharapkan agar para dokter kecil di Kota Banda Aceh mampu menjadi penggerak dalam bidang kesehatan dan kebersihan di sekolahnya.

“Saya berharap nantinya adik-adik sekalian dapat menjadi contoh teladan dan penggerak dalam kesehatan dan kebersihan di sekolah dan rumah, sehingga nantinya adik-adik sekalian akan menjadi dokter yang baik kelak,” ujarnya.

Hal tersebut ia sampaikan saat pelantikan dokter kecil se-Kota Banda Aceh dan Aceh Besar di Gedung Taman Seni dan Budaya Aceh, Rabu (20/12/2018).

Bahagia juga berharap setiap sekolah di Banda Aceh memiliki satu dokter kecil dari 10 siswa dalam rangka meningkatkan kesehatan di Banda Aceh dengan bimbingan dari tim kesehatan terkait.
“Kami juga berharap pihak terkait khususnya dinas kesehatan terus memberikan perhatian dalam bentuk bagi dokter kecil melalui kerjasama dengan instansi kesehatan lainnya,” ungkapnya lagi.

Dokter kecil yang dilantik tadi terdiri dari lima angakatan perwakilan dari 35 SD/MI; 20 SD/MI di Banda Aceh dan 15 SD/MI dari Aceh Besar. Kegiatan itu digagas oleh Yayasan Permata Hati Mazas bersama Korea International Coorporation Agency (KOICA) dan Korea Association of Health Promotion (KAHP).

Dalam acara tersebut pula, Sekda Bahagia menyerahkan sertifikat UKS terbaik kepada Kepala Sekolah MIN 1 Banda Aceh dan SD Peukan Bada sebagai sekolah dengan prestasi UKS terbaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...