Langsung ke konten utama

Kopi, Si Hitam Yang Manis

Ilustrasi : Sumber di Lokasi.com

Oleh : Zuhriati Rahmah 
Mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah, FEBI, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Kopi, siapa yang tidak mengenal minuman yang satu ini. Dengan ciri warnanya yang hitam legam, serta rasa yang pahit dan aroma yang kuat dan khas, minuman ini merupakan salah satu minuman khas rakyat Aceh. Saat duduk, bercengkerama bersama teman dan sanak saudara, kurang lengkap rasanya tanpa ditemani secangkir kopi. Mulai dari acara khusus hingga santai, pasti kopi selalu disajikan di depan masyarakat. Hingga kebiasaan ngopi sudah melekat dan tidak bisa dipisahkan lagi dari keseharian masyarakat Aceh.

Berawal dari kebiasaan inilah, seorang lelaki yang mempunyai semangat tinggi mulai berpikir untuk menciptakan usaha yang berkaitan dengan bisnis kopi. Beliau bernama Pak Taufik. Bagi penikmat kopi, nama ini sudah sangat familiar didengar. Ya, benar sekali, Taufik ini adalah nama salah satu warung kopi yang mempunyai reputasi yang  baik di mata masyarakat. Warung kopi yang terletak hampir di seluruh Aceh hingga di beberapa kota di Sumatera Utara, merupakan primadona bagi pelanggan setianya. Karena kopi yang disajikan disini berbeda rasanya dengan tempat yang lain. Pelanggan kopi di warung ini sangat ramai, mulai dari pagi hingga dini hari.

Awalnya, Pak Taufik hanyalah seorang pekerja di salah satu warung kopi terkenal yang ada di Banda Aceh. Ia bekerja sebagai penyaring kopi di tempat awalnya dia bekerja. Karena tertantang untuk membuka bisnis kopi baru dengan harapan mendapatkan keuntungan, dengan bermodal keberanian  dan keahlian yang didapatnya dahulu pada tempat pertama ia bekerja, ia memutuskan untuk membuka "Taufik Kopi". Pada saat akan membuka usaha ini, beliau meminjam modal yang didapatkan dari koperasi ditambah dengan modal pribadi. Baik yang berasal dari diri sendiri maupun yang diberikan oleh kerabat dan teman-temannya.

Saat awal membuka usaha ini, Pak Taufik menentukan terlebih dahulu lokasi usaha yang akan dirintisnya ini. Saat itu, warung yang pertama kali berada di Jl. Pocut Baren. Di warung ini, desain dan fasilitas yang diberikan awalnya tidak seberapa. Bangunannya sendiri berkonsep rumah tradisional Aceh yang terdiri dari papan kayu dan bambu sebagai anyaman dindingnya. Selain itu, kesulitan awal yang dirasakan oleh Pak Taufik saat pertama kali membuka usaha ini adalah kurangnya tenaga kerja yang ahli dan berpengalaman dalam menyaring kopi. Karena cara penyaringan kopi sangat berpengaruh terhadap rasa kopi yang akan disajikan nanti. Hingga akhirnya Pak Taufik turun sendiri untuk mencari pekerja dan mengajari mereka agar mereka mampu untuk menyaring kopi dengan baik. Setelah mereka mampu bekerja dengan baik, Pak Taufik akan membiarkan mereka bekerja serta mengontrol mereka saja.

Hingga saat ini, Pak Taufik sudah memiliki kilang kopi sendiri untuk membuat bubuk kopi. Selain untuk mendapatkan profit lebih, Pak Taufik juga berharap kilang kopi yang ada sekarang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar kilang kopi dengan cara membuka lapangan kerja bagi yang lainnya.

Dalam memproduksi bubuk kopi dengan cita rasa dan kualitas yang baik, Pak Taufik membeli langsung biji kopi dari petani kopi yang berada di Takengon. Selain itu, proses membuat bubuk kopinya pun dilakukan dengan cara memanggang menggunakan tungku api tradisional serta kayu bakar agar menghasilkan aroma kopi yang wangi dan rasa yang nikmat.

Usaha warung kopi yang dirintis oleh Pak Taufik sudah berjalan kurang lebih 12 tahun lamanya. Selain menjadi pengusaha, Pak Taufik juga aktif menjadi pemateri pada seminar-seminar motivasi yang ada pada perguruan tinggi maupun instansi lainnya. Pak Taufik selalu berusaha untuk memberi semangat dan motivasi bagi masyarakat agar tidak takut untuk memulai suatu bisnis.

"Untuk memulai suatu bisnis, kita harus berani untuk menghadapi segala macam risiko, menjadi pribadi yang optimis serta tidak mudah menyerah. Selain itu, jadilah pribadi yang dekat dengan Allah serta jangan lupa untuk bersedekah. Karena pada harta yang telah dititipkan kepada kita terdapat hak orang lain." Itulah kata-kata motivasi hidup dari Pak Taufik.

Mulanya hanya berawal dari segelas kopi hitam yang pahit, rasa pahit itu kini berubah menjadi suatu hasil yang manis. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...