Langsung ke konten utama

Cintai Alam, Alam Akan Bersahabat Dengan Kita

Dok. POTRET

Oleh M. Zaky
Siswa  kelas XI IPA B, SMA Negeri 1 Bireun, Aceh


Seperti yang telah kita tahu bahwa lingkungan adalah sesuatu yang ada di sekitar kita yang mempengaruhi hidup kita, baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan juga tempat tinggal makhluk hidup ciptaan Tuhan. Kita juga memanfaatkan berbagai hasil dari lingkungan, seperti pohon, air dan benda lainnya yang sering kita pakai. Seharusnya, karena lingkungan hidup kita, adalah tempat kita hidup, tempat kita memanfaatkan segala yang ada di lingkungan hidup kita, juga tempat hidup semua makhluk hidup, kita juga menjaga dan merawat lingkungan. Hal ini penting, karena lingkungan yang terawat, terjaga dan lestari, akan memberikan jaminan akan kehidupan kita yang baik.
Namun,  apa yang terjadi pada lingkungan sekarang ?  Kiranya, semua kita tahu, kita bisa menyaksikan apa yang terjadi terhadap lingkungan hidup kita selama ini. Ternyata, lingkungan di sekitar kita banyak yang mengalami kerusakan. Lingkungan menjadi  rusak dan kotor, bau  tidak nyaman untuk ditempati, karena sampah yang kita produksi setiap hari. Bukan hanya persoalan sampah, tetapi banyak persoalan lain yang merusak lingkungan yang bisa kita temukan dan saksikan di lingkungan kita tersebut.
Nah, ketika lingkungan kita rusak, kotor dan tidak terawat, siapakah yang menyebabkan lingkungan kita menjadi seperti ini ? Tentu saja  akan banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor yang paling mudah kita sebut adalah faktor alam, namun  faktor penyebab yang utama adalah ulah atau kenakalan manusia. Manusia sebagai khalifah di bumi, menjadi pihak yang paling merusak lingkungan atas segala kepentingan. Oleh sebab itu, perlu kita tinjau lebih jauh terkait  perbuatan atau tindakan manusia terhadap alam  yang membuat alam menjadi rusak seperti ini.
Perilaku manusia, seperti masyarakat kita terhadap alam tampak tidak bersahabat. Anehnya, ketika terjadi sesuatu, kita malah menyalahkan alam. Kita berkata, alam tidak bersahabat. Padahal, penyebab semua itu adalah karena ulah kita manusia, ya masyarakat kita. Contoh kecil saja adalah persoalan sampah. Sampah yang kita hasilkan sendiri, tidak dikelola dengan baik. Masyarakat kita masih memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya mengelola sampah dengan benar. Masyarakat kita kurang kesadaran untuk menempatkan sampah pada tempat yang benar. Bahkan tanpa rasa malu dan takut, ada yang membuang sampah di sungai, parit atau selokan. Lebih memalukan lagi ada  yang suka membuang sampah dari mobil ke jalan raya.
Sebenarnya, kita tahu bahwa ketika sampah dibuang sembarangan, akan menyebabkan pemandangan dan lingkungan menjadi kotor dan tidak sehat. Sampah yang bertebaran menyebabkan penyakit bertebaran dimana-mana. Penumpukan sampah yang bukan pada tempatnya dan pengolahan sampah yang tidak benar bisa menyebabkan penyakit seperti DBD, diare , TBC dan lain-lain. 
Bukan hanya penyakit, ada hal lainnya yang juga dapat merugikan manusia yaitu lingkungan yang tidak nyaman, yang penuhi oleh bau yang tidak sedap yang bahkan mengganggu kita semua. Bencana pun bisa mengancam kita seperti banjir longsor dan lain-lain. Sangat mengerikan bukan ?
Ya, tentu saja sangat membahayakan kita. Hal-hal tersebut terjadi karena perbuatan kita, sebagai manusia. Dari perbuatan kecil seperti membuang sampah sembarangan. Nah ini, sesuatu hal yang kita anggap kecil bisa merugikan kita semua. Padahal perkembangan peradaban manusia sudah semakin berkembang. Seharusnya, sekarang kita beralih ke perbuatan yang lebih maju. Menjadi manusia yang mau menjaga alam,  seperti tidak menebang pohon sembarangan, tidak membabat hutan dan juga tidak mengeksploitasi alam secara serampangan.  Apa yang terjadi jika pohon-pohon di hutan mulai diambil manfaatnya secara tidak wajar terjadi ? 
Sudah banyak sekali bencana yang terjadi. Misalnya bencana kekeringan yang melanda wilayah tersebut,  banjir dan banjir bandang yang paling mengkhawatirkan lagi. Bahkan kini  habitat para bintang ciptaan Tuhan ini akan mulai hilang, sehingga dapat mempengaruhi populasi mereka dan menimbulkan konflik dengan satwa.
 Jadi, menjaga lingkungan pun sebenarnya bukan hanya  dengan tidak membuang sampah sembarangan yang sering dilakukan oleh masyarakat ini.  Banyak hal lain yang dilakukan manusia yang merusak lingkungan  seperti aktivitas kita yang sangat berpengaruh bagi lingkungan yaitu asap. Asap dari industri pabrik dan kendaraan yang dapat mencemari lingkungan di udara, Udara yang di menjadi kotor dan berbahaya jika dihirup oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Selain itu sampah ini dapat melubangi ozon (pelindung bumi dari radiasi matahari). Oleh sebab itu mengapa bumi semakin lama-semakin panas.
Nah, bagaimana kita dapat mengatasi masalah ini ? Kita harus memulai dari kita sendiri. Bagaimana pola pikir kita kepada lingkungan. Apakah lingkungan itu hanya sekadar tempat tinggal kita manusia ? Yang bisa seenaknya kita lakukan semua yang kita mau di situ ? Tentu bukan, yang kita harus tanamkan pada benak kita adalah mencintai alam. Bagaimana kita mencintai alam ? Dimulai dari hal yang paling kecil saja, yaitu tidak membuang sampah sembarangan. Hati kita harus tergerak atau miris setiap saat kita melihat sampah yang bukan pada tempatnya, yang dibuang oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab ini. Otomatis kita akan membuang sampah itu pada tempatnya.
Setelah diri kita, sudah mulai berubah menjadi lebih baik atau bahkan menjaga lingkungan kita. Barulah kita mengajak teman, orang terdekat, bahkan masyarakat di sekitar kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik untuk lingkungan. Banyak yang dapat kita dapat dari bagusnya lingkungan kita seperti udara yang bagus, hasil alamnya bahkan bencana.
Giliran kita sebagai generasi penerus bangsa bahkan penerus dunia yang harus mewujudkan alam kita ini agar terjaga, khususnya dari sampah. Baik teman-teman, mari kita menjaga bumi kita yang indah ini, mulai dari hal yang kecil saja seperti buang sampah pada tempatnya. Cintailah alam, maka alam juga akan mencintaimu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...