Langsung ke konten utama

Nasib Anak Dari Keluarga Pinggiran Yang Mencengangkan

Ilustrasi : Museum Orang Pinggiran

Oleh M.Wahyudi
Kelas VIII-1 SMP Negeri 2 Masjid Raya, Aceh Besar

Pada suatu hari, di sebuah keluarga yang sangat miskin, yang sering dicaci- maki, tetapi satu orang dari keluarga itu memiliki cita-cita yang sangat besar, serta kuat pendiriannya. Ia dengan gigih berusaha mewujudkan cita-citanya. Ia rajin membantu orang tuanya dan bersekolah dengan sangat rajin.

Di lain waktu, keluarganya difitnah. Orang tuanya bekerja sebagai pedagang kecil. Ia punya saingan bisnis dan ia sangat iri dengannya, karena ia lumayan maju. Tetapi,  saingannya sangat culas. Ia menarukkan barang-barang terlarang pada bahan dagangan keluarga miskin itu. Akhirnya, ia menyelidikinya dan menemukan ada barang terlarang di barang dagangannya. Ia kemudian melaporkan hal itu ke pihak yang berwajib, lalu si pelaku tersebut ditangkap dan akan dipenjarakan. Namun, karena hatinya baik, ia kemudian meminta untuk melepaskan pelaku dan pelaku minta maaf padanya.

Waktu pun berlalu. Setelah beberapa tahun kemudian, anak yang orang tuanya miskin itu,  mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Ini semua berkat ketekunannya belajar dan terus belajar untuk bisa keluar dari jerat kemiskinan dan terpinggirkan itu. Ia belajar menjadi seorang pedagang atau entrepreneur yang andal. Usai menjalankan pendidikannya di bidang bisnis, Ia pun membuka usaha dan berkembang dengan membuka beberapa cabang. Bukan hanya di dalam daerahnya sendiri, tetapi juga di luar daerahnya. Sementara orang dan keluarga yang memfitnahnya dahulu tidak mampu berkembang seperti apa yang dilihatnya pada anak ini.

Sudah menjadi kemudahan bagi banyak orang, ketika sudah sukses membangun kehidupan,  ia pun kemudian dianugerahi dengan seorang istri yang cantik. Tentu saja, orang tuanya sangat bangga dengannya. Semua orang di daerahnya kemudian, tidak melihat ia dengan sebelah mata lagi. Orang-orang di daerahnya menjadi kagum melihat perkembangannya yang berangkat dari menjadi anak yang baik, jujur, rajin, tekun belajar dan cerdas. Wajar saja, ketika ada pemilihan kepala desa, ia diminta untuk maju sebagai kepala desa. Karena ia ingin ikut membantu membangun desa, ajakan atau saran orang-orang di kampungnya itu pun disahuti dengan baik. Sehingga ia dengan mudah dipilih untuk menjadi kepala desa.

Apa yang terjadi kemudian, setelah ia terpilih menjadi kepala desa, kehidupan masyarakat desa pun berangsur membaik menuju desa yang makmur. Masyarakat yang dipimpinnya merasa semakin maju, nyaman, tenteram dan bahkan terasa makmur. Namun, ia tidak ingin berlama-lama menjadi kepala desa. Maka, setelah ia berhasil membawa desanya menjadi desa yang maju, ia pun mengundurkan diri.

Semangat dan niatnya untuk membangun negerinya, ia lanjutkan dengan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai gubernur. Langkahnya untuk menduduki jabatan sebagai Gubernur, ternyata tidak terlalu berat baginya. Banyak orang yang mengenalnya, karena prestasinya memimpin dan membangun desa. Ia malah mendapat suara terbanyak dalam pemilihan Gubenur. Akhirnya ia menang dan diangkat menjadi Gubernur. 

Jalan hidupnya, memberikan pelajaran penting kepada banyak orang. Ternyata, orang-orang yang sebelumnya miskin dan hidup terpinggir, bisa sukses dan menjadi orang yang berguna dan dikagumi itu, karena mau belajar dengan sungguh-sungguh, mengedepankan kejujuran dalam hidup, serta selalu istiqamah dalam membangun kehidupan pribadi dan juga kehidupan sosial di masyarakat. Selayaknya kita bisa mengikuti cara-cara yang dilakukannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...