Langsung ke konten utama

Tenda Biru

Dok. Aksi cepat tanggap


Oleh  Nimas Ayu Ningtyas
Kelas VII-3 SMP Negeri 2 Unggul, Masjid Raya, Aceh Besar

Beberapa tahun lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, Aceh dilanda bencana tsunami yang sangat dahsyat.  Bencana yang menewaskan ratusan ribu orang. Kala itu, ribuan mayat bergelimpangan di tas jalan, di dalam lumpur, di puing-puing rumah dan bangunan dan bahkan dibawa arus ke laut. Sangat banyak korban tsunami yang tidak ditemukan. Banyak yang hilang, tanpa diketahui di mana mereka berada. Itulah kisah sedih yang terjadi di pagi hari, di saat orang-orang sedang memulai aktivitas pagi. Kala itu, tanpa ada ada yang bisa mengira, tiba-tiba gempa dahsyat mengguncang bumi Serambi Makkah. Gempa yang membuat lapisan tanah di laut retak dan bahkan mematahkan lempengan bumi.

Saat itu, ada hal yang tak pernah disaksikan orang, ketika usai gempa mengguncang, air laut surut, seakan mengering, membuat ikan-ikan berhamburan. Sayangnya, banyak orang yang tidak tahu, termasuk para nelayan. Mereka malah memungut ikan-ikan yang berhamburan itu. Lalu, ketika orang-orang sedang sibuk memungut ikan yang bertebaran, tiba-tiba gelombang besar datang begitu kencang menuju pantai. Gelombang besar yang sangat kencang menghantam apa saja yang ada di pinggir pantai bahkan mencapai 6 kilometer ke daratan. Gelombang itu menghancurkan dan menghanyutkan semua bangunan serta ribuan nyawa manusia, hewan dan sebagainya.

Hari itu, Aceh seperti sedang dihadapkan dengan hari kiamat. Semua orang berduka dan menangis. Mereka yang selamat, berusaha mencari orang-orang yang mereka cintai. Ayah dan ibu mencari anak, anak mencari ibu atau ayah yang sempat terpisah dan bahkan tidak pernah bertemu lagi. Saat itu, semua orang seperti tidak mampu membantu mereka-mereka yang sudah terkubur dalam puing-puing bangunan yang runtuh dan hancur. Semua bagai pasrah melihat kenyataan. 

Bahkan ayahku juga ikut menjadi korban bencana itu. Berhari-hari ayah tidak ditemukan. Namun, alhamdulilah, pada akhirnya ibu kemudian menemukan keberadaan ayahku. Ibu berhasil meneukan ayah di Lamteumen, ibu angat bersyukur ayah masih selamat.

Orang-orang yang selamat dari hempasan gelombang besar yang dahsyat itu, yang sebelumnya memiliki rumah tempat tinggal, pada pagi itu semua hilang. Mereka sudah tidak punya tempat berlindung, mereka harus mencari tempat-tempat pengungsian ke masjid-masjid, ke tempat-tempat yang jauh dari pinggir laut. Mereka terpaksa tinggal di tempat yang kumuh. Tidur dan hidup di bawah tenda biru.

Banyak orang yang tidak henti-hentinya menangis, meratap dan terus bersedih hingga berbulan dan bahkan bertahun lamanya hidup di bawah tenda biru, sebelum barak penampungan pengungsi tersedia. Bagi mereka yang punya saudara di daerah yang tidak terkena bencana tsunami, bisa menumpang hingga masuk ke barak.

Alhamdulilah, kemudian bantuan berupa logistic, seperti makanan, pakaian dan lain-lain mulai berdatangan. Kala itu pula, banyak sekali orang yang datang membantu.  Bukan hanya dati dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Perhatian masyarakat internasional pun tumpah di Serambi Makkah ini. Berbagai macam bantuan datang membanjiri Aceh. Mereka yang kehilangan rumah juga akhirnya mendapat bantuan rumah dan segalanya. Walau harus menunggu sekian lama, karena kerusakan yang dialami daerah ini memang sangat parah.
Bancana tsunami Aceh sudah berlalu dan kini tinggal dalam kenangan. Namun, bencana tsunami yang sangat dahsyat itu, sesungguhnya memberikan banyak pelajaran bagi kita. Pelajaran yang menunutut kita harus waspada dengan keadaan alam. Waspada akan kemungkinan terjadinya bencana alam, termasuk gempa dan tsunami. Gempa bumi tidak bisa diprediksi, juga tidak ada orang yang bisa memastikan bahwa tsunami tidak terulang. Kini, Aceh pun sudah dijadikan sebagai tempat belajar banyak orang di dunia. Menjadi tempat belajar tentang tsunami. Apa lagi sekarang sudah ada museum tsunami yang dapoat membuat kita mengenang kembali masa-masa yang penuh duka di masa bencana itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...