Langsung ke konten utama

Menyemai Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah


Oleh  :Dony Purnomo, S.Pd
Guru Geografi SMAN 1 Purwantoro Wonogiri Jawa Tengah

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap berbagai macam bencana. Hal tersebut tidak terlepas dari posisi Indonesia yang berada jalur gunung api dunia, lempeng benua dan lempeng samudra yang terus aktif. Ditambah lagi Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana hidrometeorologi yang semakin tahun, semakin meningkat jumlahnya.
Berdasarkan data yang dihimpun BNPB selama tahun 2018 setidaknya terdapat 5.094 bencana alam. Dari bencana alam itu tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Bencana yang berada di peringkat tiga besar, terbanyak kejadiannya adalah puting beliung sebanyak 1.770, banjir sebanyak 1.339 dan tanah longsor 1.081.
Berdasarkan data BNPB setidaknya terdapat 254 juta jiwa yang terpapar oleh risiko bencana yang ada di Indonesia. Dengan data itu menujukkan besarnya jumlah penduduk di Indoesia yang memiliki risiko untuk mengalami kejadian bencana alam. Ketika risiko ini tidak diimbangi dengan kapasitas penanganan dan mitigasi bencana yang memadai, maka akan menimbulkan banyak korban jiwa akibat bencana yang terjadi.
Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk menyemai  kemapuan dalam pengurangan risiko bencana. Pasalnya, sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah, sehingga ketika anak mengalami bencana di sekolah ia telah siap untuk menghadapi bencana dan selamat dari bencana yang terjadi. Dalam penerapan pendidikan pengurangan risiko bencana terdapat tiga pilar yang harus dilakukan sekolah untuk menerapkan pendidikan pengurangan risiko bencana di sekolah.
Fasilitas aman sekolah
Bangunan sekolah  merupakan hal yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkan pengalaman bencana yang telah terjadi, banyak fasilitas umum utamanya sekolah yang rusak akibat bencana.  Untuk mengantisipasi itu diperlukan sekolah yang aman dan komprehensif . 
Berdasarkan SPAB Kemdikbud, sekolah aman yang komprehensif bertujuan untuk melindungi peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lainnya dari risiko kematian dan cedera di sekolah, merencanakan kesinambungan pendidikan dalam menghadapi bahaya yang sudah diperkirakan, Memperkuat ketangguhan warga komunitas terhadap bencana melalui pendidikan, Melindungi investasi di sektor pendidikan.
Pengetahuan mengenai fasilitas sekolah yang aman terhadap bencana merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa sekolah yang berlokasi di daerah rawan bahaya sudah dirancang dan dibangun sedemikian rupa untuk mengantisipasi terjadinya bencana.  Pengetahuan ini dapat digunakan dalam melakukan penguatan terhadap bangunan sekolah, sehingga lingkungan belajar menjadi tempat berlindung yang aman dari bencana.
Manajemen bencana di sekolah
Manajemen sekolah berbasis bencana dimulai dari pengkajian potensi bencana, perencanaan terhadap perlindungan bencana dilanjutkan hingga aksi untuk pengurangan risiko bencana.  Pengkajian dan perencanaan merupakan titik awal dalam upaya mitigasi dan keselamatan. Kedua hal tersebut harus berdampingan, karena tanpa pengkajian, maka perencanaan akan berantakan, dan tanpa perencanaan, pengkajian akan dilakukan tanpa tujuan. 
Pihak yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pendidikan dan implementasi  dapat berbagi informasi mengenai kebijakan dan respon strategis. Hal ini  merupakan hal yang penting dalam mengurangi konflik dan bencana. 
Selanjutnya pada saat perencanaan penanggulangan bencana di sekolah yang partisipatif harus selalu dikembangkan dan diperbaharui setiap tahun, dan tidak akan pernah menjadi dokumen yang dianggap sudah selesai. Saat sedang dalam proses perencanaan, pastikan semua dokumen berada pada satu tempat di kantor yang dapat dilihat dan diakses oleh semua orang.
Pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana
Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana merupakan sebuah kegiatan jangka panjang dan merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan.  Penerapan pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana terdapat tiga tahapan untuk mengimplementasikannya yaitu; Tahap persiapan, tahap pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, dan tahap adviokasi.
Untuk memulai pendidikan siaga bencana di sekolah, idealnya setiap sekolah melakukan serangkaian proses kegiatan di antaranya; mengikuti pelatihan atau pembekalan tentang penanggulangan bencana dan pengurangan  risiko bencana, mengenali risiko bencana di sekitar lokasi sekolah, merencanaka n integrasi kurikulum ke dalam rencana         belajar, menyelenggarakan  mata pelajaran Pendidikan PRB., memadukan pendidikan kesiapsiagaan bencana ke dalam kebijakan sekolah.
Melalui pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana ini diharapkan peserta didik dapat memiliki kemampuan yang utuh mengenai bencana, keterampilan dalam pencegahan dan pengurangan risiko bencana sehingga mereka bisa siap dan sigap saat menghadapi bencana.
Dengan terintegrasinya tiga pilar dalam pelaksanaan pendidikan pengurangan risiko bencana ini diharapkan dapat mengurangi indeks risiko bencana yang ada di Indonesia. Dengan semakin rendahnya indeks risiko bencana maka Indonesia akan menjadi negara yang tangguh dalam meghadapi bencana di masa yang akan datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...