Langsung ke konten utama

ACT Gelar Malam Peduli Yaman di Banda Aceh, Grup Nasyid Raihan Turut Hadir


Banda Aceh – Konflik di Yaman telah membuat penduduk Yaman mengalami krisis kelaparan parah akibat sulitnya mengakses makanan sejak konflik 2014. Bahkan tidak sedikit dari kalangan anak-anak menderita malnutrisi.
Parahnya kondisi Yaman telah menarik perhatian Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengimplementasikan program kemanusiaan berupa pengiriman bantuan pangan dan obat-obatan.
Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, ACT Aceh kembali mengajak masyarakat berpartisipasi mendukung pembebasan Yaman dari kelaparan. Sebab itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh akan menyelenggarakan malam amal peduli Yaman bertemakan Bahagiakan Yaman di Idul Adha Yaman “Yuk, Pastikan Saudara Kita Bersantap Qurban” di Bin Hamid Café & Bistro, Lampineung, Banda Aceh, Jumat malam (5/7) pukul 20.30 hingga 22.00 WIB.
Kegiatan yang turut didukung oleh Bin Hamid Café dan Musafir Tour & Travel ini, turut dihadiri Grup Nasyid Internasional Raihan bersama 58 wisatawan yang berkunjung ke Aceh. “Di sela-sela kunjungan rombongan Raihan bersama para wisatawan, kita mengajak mereka mengisi acara sosialisasi peduli kemanusiaan untuk Yaman,” ungkap Kepala Cabang ACT Aceh Husaini Ismail, Banda Aceh, Kamis (4/7).
Ia menjelaskan bahwa konflik di Yaman membuat rakyatnya menderita kemiskinan dan kelaparan. Sementara itu, umat Islam sedunia tidak lama lagi akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Jadi, kita mengajak umat Islam, terutama yang berada di Aceh ikut peduli Yaman agar bisa menyantap daging qurban di hari raya nanti. “Mari sama-sama kita hadir guna berpartisipasi mendukung penyelesaian krisis kelaparan Yaman,” lanjutnya.
Mujiburrizal, sahabat Grup Raihan di Aceh menuturkan, kehadiran grup nasyid asal Malaysia itu bersama rombongan wisatawan khusus untuk berwisata. Apalagi Aceh yang dikenal sebagai daerah bersyariat Islam sedang menggenjot wisata islami. Hal inilah yang memikat para wisatawan Malaysia mengunjungi Aceh di samping karena keindahan alam dan situs sejarah di bumi serambi Mekkah ini.
“Secara emosional Raihan merasa sangat dekat dengan Aceh. Karena itu, ketika ACT mengajak Raihan tampil di acara ACT Aceh, mereka bersedia hadir mengisi acara,” terangnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...