Langsung ke konten utama

Saatnya Pemuda Aceh Besar Bangkit Menjadi Pengusaha


Sudah saatnya pemuda mandiri. Kuliah bukan untuk mendapatkan pekerjaan. Kuliah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang belum mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kuliah menggali dan berbagi ilmu, bukan mendengar dan hanya menerima ilmu. Melihat kondisi zaman yang semakin hari semakin menuntut kita untuk bersaing, “siapa cepat dia dapat, siapa lambat tidak selamat”. Kalimat tersebut saya sampaikan pada teman yang akan memulai aksi dalam dunia usaha. Karena bagi mereka yang mempergunakan waktu sebaik mungkin akan selamat dunia akirat.

Untuk menjawab tantangan zaman, maka pemuda Aceh Besar yang bergabung dalam wadah PB - IPAR ( Ikatan Pemuda Aceh Besar) berinisiatif bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Besar dan KADIN Aceh melaksanakan pelatihan selama dua hari di Gedung BP Paud Dikmas, Aceh Besar. Acara tersebut diikuti ratusan peserta yang antusias ingin menjadi pengusaha dan narasumber yang mengisi materi tersebut berasal dari pengusaha sukses di Aceh Besar, putera Aceh Besar yang menjadi Ketua KADIN Aceh dan Pengusaha Muda dari Jakarta.

Dalam berbagi kisah sukses narasumber mnyampaikan bahwa kekuatan untuk berubah menjadi sukses ada pada diri sendiri. Sebagaimana yang disampaikan Bapak H.Makmur Budiman, SE. sebagai Ketua KADIN ACEH, bahwa untuk menjadi pengusaha harus mampu menglola waktu sebaik-baiknya, memiliki kesabaran yang tinggi, mampu bekerja keras dan memacu diri untuk terus melakukan perbaikan dan inovasi.

Sesuai dengan zaman, di era digital sekarang ini, masyarakat lebih suka berbelanja di dunia maya melalui media sosial. Berdasarkan data Januari 2019 tentang penggunaan media sosial yang paling banyak dikunjungi orang Indonesia untuk mengetahui informasi yaitu 130 juta dimana 44% pengunjung laki-laki dan 56% pengunjung perempuan.Maka orang lebih suka belanja dan berjualan di media sosial, karena murah,tidak terbatas waktu karena bisa 24  jam, tempat dan lokasi  jangkauannya luas, sederhana, prospek tidak terbatas, sangat fleksibel sehingga nyaris sempurna.

Acara tersebut ditutup oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, DR.Silahuddin, M.Ag. dengan memberikan nasehat bahwa  untuk merubah nasib maka mulailah dengan merubah pola pikir diri pemuda sendiri yang harus dirubah demi kemajuan ke depan. Maka apabila pemuda berpikir menjadi pengusaha maka jadilah ia pengusaha.

Ada 3 kata yang mampu mematikan langkah kita menuju kesuksesan yaitu tapi, namun dan andaikata. Bagi pemuda Aceh Besar, sebisa mungkin hindari ketiga kata tersebut dan lebih baik lagi hilangkan kata tersebut dalam pikiran.
Kontributor: Cut Rahma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...