Langsung ke konten utama

Sudahkah Kampus-kampus di Aceh Ramah Terhadap Penyandang Disabilitas?


Oleh: Harri Santoso
                  Menurut Koordinator Kopertis Wilayah V Aceh Prof. Dr. Farid Wajdi terdapat 150 Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta di seluruh Aceh. Pertanyaannya adalah sudahkah 150 perguruan tinggi ini ramah terhadap penyandang disabilitas? Hal ini penting mengingat Aceh telah mendeklarasikan sebagai negeri syariah, tentu saja syariah bukan hanya wisata, makanan, sistem perbankan, namun juga diharapkan dalam dunia pendidikan. Pentingnya pendidikan bagi penyandang disabilitas diharapkan akan mampu melahirkan sosok-sosok penyandang disabilitas yang mandiri dan mampu menjadi subjek pembangunan, bukan objek pembangunan Aceh maupun Indonesia. Selain itu, pendidikan tinggi dituntut untuk segera ramah terhadap penyandang disabilitas, karena untuk menjawab tuntutan pendidikan inklusif yang telah dilaksanakan pada pendidikan dasar dan menengah di beberapa kota di Aceh.
                  Menurut penulis, beberapa hal yang penting terkait dengan sejauh mana kampus ramah terhadap penyandang disabilitas antara lain:
a.    Aksesibilitas
Survei yang dilakukan oleh masyarakat peduli disabilitas Aceh pada tahun 2016 terhadap aksesibilitas penyandang disabilitas di beberapa lembaga pendidikan menunjukan hasil yang sangat rendah. Hal ini ditandai dengan tidak tersedianya beberapa elemen-elemen aksesibilitas di lokasi lembaga pendidikan tersebut. Beberapa elemen aksesibilitas antara lain: Jalan landai bagi pengguna kursi roda, lambang penyandang disabilitas, toilet, lift (meskipun gedung terdiri dari 2-3 lantai). Beberapa elemen di atas sangat sulit sekali untuk dijumpai agar dapat digunakan bagi penyandang disabilitas. Sehingga kampus baik negeri maupun swasta yang ada sekarang ini seolah-olah tidak memberikan ruang dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk dapat belajar dan menimba ilmu di lembaga pendidikan ini.

b.    Penerimaan yang baik dari seluruh civitas akademika
Selain aspek infrastruktur bagi penyandang disabilitas, penting juga menghadirkan penerimaan yang baik dari seluruh civitas akademika di lembaga pendidikan tersebut mulai dari Rektor dan seluruh jajarannya, Dekan dan seluruh jajarannya, Dosen, staf akademik dan non akademik. Penerimaan ini akan berdampak pada keseriusan civitas akademika untuk memberikan layanan yang terbaik bagi penyandang disabilitas, tidak hanya sekadar memberikan pelayanan, namun juga memperhatikan akan hak mereka untuk mendapatkan pelayanan dalam pendidikan yang maksimal.
c.    Tersedianya Pusat Layanan Penyandang Disablitas              
Bagi penulis, tersedianya pusat layanan penyandang disabilitas ini sangat penting. Terlebih lagi bagi kampus-kampus yang secara infrastruktur belum memadai untuk memenuhi hak penyandang disabilitas. Sebagai ilustrasi, pusat layanan ini menjadi sentra pelayanan dan informasi bagi penyandang disabilitas untuk belajar di kampus tersebut. Melalui pusat ini, para penyandang disabilitas ini dapat memastikan dukungan seperti apa yang harus diberikan kampus kepada mereka agar dapat secara maksimal untuk belajar mandiri. Seperti jika dia menggunakan kursi roda maka pusat layanan ini harus memastikan bahwa kelas yang akan digunakannya untuk belajar tidak berada di lantai 2 ataupun 3. Jika dia mengalami tingkat pendengaran yang kurang baik, maka pusat layanan ini harus memastikan bahwa si pelajar akan berada di barisan depan dalam setiap waktu pembelajarannya. Contoh lain yang dapat dilakukan oleh pusat layanan ini juga sebagai pusat data berapa jumlah pasti penyandang disabilitas di kampus tersebut. Sebagaimana kita ketahui, sudah sangat mahfum tentang sulitnya kita mendapatkan jumlah pasti penyandang disabilitas di Aceh maupun di Indonesia.

Demikian aspek penting yang harus diperhatikan dunia pendidikan tinggi agar dapat disebut sebagai kampus ramah penyandang disabilitas. Jika merujuk pada sejarah islam, Rasulullah SAW sebagai pembawa ajaran islam yang mulia ini pernah mendapat teguran dari ALLAH SWT ketika dirinya tidak menganggap penting seorang penyandang disabilitas dan lebih memandang penting para bangsawan Quraisy pada saat itu. Oleh karenanya, melalui tulisan kecil ini, penulis ingin mengingatkan pada pemangku kepentingan di Perguruan Tinggi, baik negeri dan swasta di seluruh Aceh bahwa penting bagi kita memperhatikan hak penyandang disabilitas tidak saja agar mereka dapat hidup lebih mandiri, tetapi lebih dari itu ketika kita memperhatikan hak-hak mereka. Maka hal ini  juga sebagai bukti bahwa kita adalah muslim yang taat terhadap perintah Allah SWT  serta meneladani dan  mencintai Rasulullah SAW dengan cara melaksanakan apa yang dia perbuat. Wallahu a’lam bi swahab.


Harri Santoso., S.Psi.,M.Ed adalah Akademisi di Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry dan Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus. Berdomisili di Banda Aceh. E-mail: harri.santoso@ar-raniry.ac.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...