Langsung ke konten utama

ACT Aceh Distribusikan 1.000 Lebih Hewan Qurban


Aceh Besar – Kebahagian menyantap daging kurban begitu terlihat di Masjid Rahmatullah Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Senin (12/8). Ratusan warga setempat begitu antusias mengikuti proses penyembelihan kurban dan penyiapan masakan kurban.
Terdapat 27 hewan kurban yang disembelih di sana, hasil penyaluran Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh dari mitra asal Turki, Hayrat. Selanjutnya, hewan kurban tersebut didistribusikan ke hingga tujuh kecamatan di Aceh Besar. “Penerima manfaat daging kurban yang kita salurkan ini insya Allah adalah orang-orang yang berhak. Kita udah melaksanakan asesmen sebelum mendistribusikannya,” ujar Kepala ACT Aceh Husaini Ismail.
Ia menuturkan, masyarakat nampak antusias menyantap keberkahan daging kurban yang diracik dengan resep khas Aceh Besar. Masyarakat bisa merasakan kenikamatan daging kurban sambil menyelami suasana masjid yang begitu religi. Ditambah lagi sejarahnya sebagai satu-satunya bangunan yang selamat dari dahsyat hantaman tsunami pada 2004 silam. Karena itu, kekhidmatan menyantap daging kurban  di lingkungan masjid yang berdekatan “Kampung Turki” semakin terasa. 
“Sambil menikmati daging kurban, kita dapat melihat Masjid Rahmatullah sebagai bukti atas kebesaran Allah,” lanjutnya.
Suasana di Aceh Utara
Suara kapak memotong tulang-tulang sapi kurban terdengar sangat jelas di satu sudut rumah warga di Gampong Geulinggan, Lhoksukon, Aceh Utara. Sekitar 10 orang lelaki asik menyiapkan masakan daging kurban lengkap nasinya. Mereka nampak bercengkrama sementara tangan mereka terus memotong daging.
Proses penyiapan makanan tersebut menjadi bentuk kemeriahan warga menyambut hari raya Iduladha. Mereka bersiap menyantap daging kurban yang disalurkan Turkiye Diyanet Foundation (TDV) melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh. “Ini merupakan tahun ketiga TDV menjadikan ACT sebagai mitranya. Alhamdulillah, itu berkat dukungan masyarakat, relawan MRI dalam menjaga amanah mereka,” ucap Thariq Farline, Head of Marketing ACT Aceh, Minggu (11/8).
Daging yang sudah masak tersebut kemudian dihidangkan di lingkungan Masjid Baiturrahim, Lhoksukon. Masyarakat dari berbagai kalangan dipersilahkan makan menikmati hidangan di bawah tenda yang telah disiapkan. Senyuman warga bermekaran.
Sementara itu, di sudut lainnya Masjid Baiturrahim, penyembelihan sapi kurban dari TDV sedang berlangsung yang turut dibantu warga dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). Jumlahnya 44 ekor sapi atau setara dengan 308 ekor kambing. Sapi-sapi tersebut langsung dijemput oleh masyarakat dari lima daerah target distibusi hari ini, yakni Aceh Timur, Lhoksweumawe, Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Langsa. 
Bupati Aceh Utara H. Muhammad Thaib hadir ketika prosesi serah terima sapi secara simbolis dari TDV kepada masyarakat. “Kami berterima kasih kepada ACT Aceh yang sudah memfasilitasi salah satu lembaga dari Turki untuk mendistribusikan kurbannya kepada masyarakat Aceh Utara,” ucapnya.
Thariq menambahkan, bahwa tahun ini ACT Aceh mendistribusikan lebih 1.000 hewan kurban setara kambing ke 13 kabupaten/kota Aceh. Kurban tersebut berasal dari sejumlah mitra lainnya seperti Moorden, MyBank, dan BNI Syariah. Ia berharap agar ke depan jumlah hewan yang didistribusikan mengalami peningkatan seperti halnya tahun ini. “Mudah-mudahan, dengan segala dukungan dan kepercayaan masyarakat selama ini, kami bisa berbuat lebih banyak lagi,” lanjutnya.
Katanya, pada tahun ini antusiasme masyarakat berqurban melalui ACT Aceh mengalami peningkatan. Ia berharap masyarakat terus mendoakan dan mendukung ACT sebagai lembaga kemanusiaan. 
Perwakilan TDV Fuad merasa cukup senang bisa mendistribusikan daging kurban di Aceh. “Mudah-mudahan daging yang diterima masyarakat bisa bermanfaat,” pungkasnya.

Caption foto: 
1. Anggota Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) mencoba menurunkan sapi untuk dibawa ke lokasi penyembelihan di Masjid Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara, Minggu (11/8).
2. Warga menikmati sajian keberkahan daging kurban di Masjid Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara, Minggu (11/8).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...