Langsung ke konten utama

Bukan Propaganda Anti Pembangunan






Oleh Muhammad Nur, S.H

Direktur Eksekutif WALHI Aceh

Setiap negara membutuhkan investasi dari pihak ketiga, yaitu pemodal besar. Apalagi Indonesia, dengan status negara berkembang, investasi merupakan keniscayaan. Negara ini masih membutuhkan banyak partisipasi swasta untuk mempercepat laju pembangunan di segala sektor. Investasi juga salah satu faktor yang menentukan maju atau tidaknya sebuah negara.

Akan tetapi, pengelola negara sebagai pihak yang berkewajiban menjamin keberlangsungan sebuah entitas bangsa, serta bertanggungjawab pula menyejahterakan rakyatnya, haruslah memiliki platform yang jelas atas investasi yang masuk ke negaranya. Para pemodal yang masuk tersebut bukan semata-mata sebatas menghasilkan keuntungan bagi negara, tapi juga harus bisa membangkitkan ekonomi rakyat serta menjamin tidak terjadinya ketimpangan terhadap masyarakat di mana mereka hadir untuk berinvestasi. Secara lebih gamblang lagi, bentuk lazimnya investasi yang pro kepada pembangunan adalah bisa membantu perbaikan ekonomi masyarakat.

Oleh demikian, investasi yang masuk tidak semata hanya memperbaiki ekonomi pemegang saham dan oknum pelaksana pemerintahan. Untuk itu, investasi pertambangan yang hanya menghadirkan kesejahteraan bagi segelintir elit dan pemodal, bukan sebuah solusi untuk menjawab berbagai problem pembangunan. 

Aceh, sebagai propinsi bekas konflik dan tsunami, merupakan sebuah kawasan yang masih memiliki ragam masalah. Hal yang paling utama adalah masih banyaknya keluarga miskin yang hidup tanpa memiliki akses pada lahan-lahan produksi. Bahkan masih belum memiliki pekerjaan yang menjamin lahirnya kesejahteraan untuk keluarganya.

Pemerintah tentu harus bekerja keras menjawab tantangan tersebut. Pemerintah butuh banyak “bantuan” dari pihak ketiga untuk menanamkan modalnya di Aceh. Tapi, tidak meululu harus melalui pertambangan, yang hingga kini banyak meninggalkan problem pembangunan.

Di Aceh banyak bentuk investasi yang bisa dibuka tanpa harus mengutamakan pertambangan. Penolakan yang terjadi selama ini dikarenakan belum bisa membuktikan kepada publik bahwa pertambangan telah menyejahterakan warga sekitar. Contoh kasus PT MIFA yang terus didemo atau diprotes warga dikarenakan limbah abu dan merusak ekosistem sumber kehidupan, hingga akses warga dibatasi oleh perusahaan.

MIFA adalah salah satu contoh di antara beberapa kasus tentang efek buruk kehadiran pertambangan di Aceh. Walau nyaris semuanya melahirkan konflik sosial di tengah masyarakat, hingga kini belum terlihat langkah terbaik dari pemerintah untuk menjembatani antara investor dengan masyarakat tempatan.


Langkah yang Harus Ditempuh

Setidaknya ada enam langkah yang bisa ditempuh oleh pemerintah untuk menjawab persoalan yang timbul akibat efek buruk sebuah investasi yang masuk ke Aceh.  Pertama, sebelum mengundang calon investor lokal, nasional maupun internasional, Pemerintah Aceh harus satu suara dengan masyarakat yang berada di wilayah yang akan dimasuki investor. Masyarakat harus diberikan pemahaman untuk efek positif dan negatif akibat hadirnya sebuah unit investasi di kawasan mereka.  

Kedua, mestinya negara melalui dinas teknisatau kementerian tidak boleh menerbitkan dokumen apapun sebagai syarat hukum dalam pembangunan sebagai pelengkapan administrasi, bila masalah dengan rakyat belum selesai 100%. Karena masalah yang akan terjadi mesti dipahami oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu rencana pembangunan, misalkan kasus sengketa tanah, termasuk menindaklanjuti tuntutan warga sejak rencana dalam menghadapi pengelolaan lingkungan, sosial dan HAM.  

Ketiga, Negara dalam hal ini pemerintah harusmenjamin bahwa komitmen yang dibanguan antara investor dengan rakyat, ketika pertama mereka masuk, tidak diingkari. Perjanjian untuk melahirkan masyarakat yang sejahtera di lingkungan proyek investasi haruslah dikawal oleh pemerintah. Keempat, pemerintah harus menjadi pihak yang menjamin terpenuhinya tugas dan tanggungjawab kedua belah pihak serta bertindak fair play, dengan berdiri di tengah-tengah sebagai pengawas sekaligus pemberi jaminan bagi kedua pihak untuk sama-sama bekerja dalam rangka membangun daerah. 

Kelima, pemerintah harus mengundang investor yang serius menggarap sektor perkebunan, pertanian dan kelautan. Aceh dengan luas wilayah dan mayoritas adalah kawasan agraris dan bahari, tentu masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan, tanpa harus mengundang investor yang berpeluang besar melahirkan kerusakan lingkungan hidup. 

Akhirnya, Aceh tidak perlu dibangun seperti Singapura atau Jakarta. Sumber penghidupan rakyat Aceh mayoritas pada sektor perkebunan, pertanian dan kelautan. Artiny ainvestasi yang cocok adalah membuka ruang untuk menampung hasil kekayaan yang ada untuk dipasarkan keluar daerah bahkan luar negeri.

Aceh belum butuh untuk dibuka bagi investasi tambang emas, batubara dan sebagainya. Karena sumber di permukaan tanah masih sangat melimpah ruah untuk dikembangkan demi tercapainya kesejahteraan rakyat dan memacu pembangunan daerah. 

Gagasan ini bukan sebagai bentuk propaganda anti pembangunan. Tapi semata bertujuan lahirnya pembangunan yang berkeadilan, berefek positif bagi lingkungan hidup serta mampu membangkitkan ekonomi rakyat kecil yang notabenenya mayoritas adalah petani dan nelayan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...