Langsung ke konten utama

Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat RI-001 Ingatkan Jaga Kemerdekaan Indonesia



Aceh Jaya – Nyak Sandang, salah seorang penyumbang pesawat pertama Republik Indonesia (RI-001) mengingatkan generasi sekarang mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang susah payah diraih para pejuang.

Hal tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) di kediamannya Desa Lhuet, Jaya, Aceh Jaya, Sabtu (17/8).

“Semoga kemerdekaan ini bisa dijaga, diteruskan, dan diisi dengan baik,” ucapnya singkat.

Saat dikunjungi, Nyak Sandang sedikit bicara. Di umurnya yang sudah lebih 90 tahun, Nyak Sandang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Ia dan istrinya Fatimah dalam kondisi sakit-sakitan. “Ya Allah, berikan kemerdekaan ini berlanjut. Dan terima kasih kepada ACT yang selama ini telah mendampingi saya,” lanjutnya.

Pesawat yang dibeli dari hasil sumbangan tersebut kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Transportasi udara pertama milik Indonesia yang digunakan Presiden Soekarno di era perjuangan Indonesia. Nyak Sandang yang kala itu berusia 23 tahun bersama orang tuanya menjual sepetak tanah dan emas guna mendukung pembelian pesawat. Pesawat ini pula yang menjadi cikal bakalnya lahir perusahaan Garuda Indonesia.

Tahun 2018 Nyak Sandang diundang oleh Presiden Joko Widodo ke Istana Merdeka, Jakarta, sebagai bentuk apresiasi atas kedermawanannya.

Staf Program ACT Aceh memaparkan bahwa perjuangan orang-orang terdahulu patut dihargai dengan baik. Darah pejuang tumpah demi merebut kembali kemerdekaan dari tangan penjajah.

Katanya, ada banyak cara mencintai Indonesia. Salah satunya dengan menjadi pribadi yang berkontribusi untuk kebaikan dan perbaikan Indonesia dengan peran apapun yang dijalankan sebaik mungkin. “Tugas kita sekarang adalah mempertahankan kemerdekaan melalui penyejahteraan bangsa, menanamkan patriotisme sejak dini kepada anak-anak,” terangnya.

Hal senada disampaikan Astri Maulida, Humas MRI Wilayah Aceh. Menurutnya, bangsa Indonesia harus mengeratkan persatuan demi menyelesaikan persoalan bangsa. “Jangan berharap kepada orang lain menyelesaikan persoalan, kita mulai dari pribadi kita sendiri dari hal terkecil sekalipun seperti saling membantu, peduli terhadap lingkungan, dan mengharumkan bangsa Indonesia di kancah internasional,” tutupnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...