Langsung ke konten utama

PEREMPUAN PEJABAT PUBLIK ACEH REFLEKSIKAN KONDISI PEREMPUAN

Dok. Flower Aceh


BANDA ACEH – Belasan perwakilan Perempuan Pejabat Publik (Femokrat) tingkat provinsi dan dari Kabupaten/Kota Banda Aceh, Pidie dan Aceh Utara melakukan refleksi kondisi perempuan terkait dengan isu kemiskinan, kesehatan reproduksi dan seksual (KSR),kepemimpinan di desa, dan partisipasi politik perempuandi Aceh pada (20/08/2019) di Hotel Kryad, Banda Aceh.

Pada pertemuan ini, Direktur Flower Aceh Riswatimenegaskan tentang pentingnya kerja bersama multi pihak perempuan dari berbagai background untuk mendukung pemberdayaan dan pemenuhan hak-hakperempuan di Aceh.

“Ada banyak persoalan yang dihadapi perempuan seperti kemiskinan, kesehatan dan gizi, angka kematian ibu yang tinggi, belum menguatnya kepemimpinan perempuan dan partisipasinya dalam pembangunan. Penting bagi kita untuk melakukan konsolidasi dan berkolaborasi, sertamemperkuat jaringan advokasi perempuan pejabat publikuntuk pemberdayaan dan pemenuhan hak perempuan di Aceh,” katanya.

Menyikapi masih rendahnya jumlah perempuan terpilihpada Pileg 2019, Ketua Kaukus Perempuan Politik Aceh (KPPA) Mariati mengingatkan agar semua pihakmelakukan upaya strategis dan terencana untuk meningkatkan partisipasi politik perempuan.

“Upaya peningkatan partisipasi politik perempuan harus menjadi komitmen bersama semua pihak, baik pemerintah dan non-pemerintah, terutama partai politik(Parpol). Parpol idealnya mempertahankan dan lakukan kaderisasi terstruktur kepada perempuan-perempuan potensial, dan memberi kesempatan untuk menjalankanperan strategis, tidak sebatas pelengkap saja, “ ujarMariati.

Lebih lanjut Mariati menuturkan akan pentingnya perempuan menempati posisi strategis pada alat kelengkapan DPRA, khusunya yang membidangi urusan perempuan.

“Harus ada upaya agar setidaknya satu orang perempuan berada di setiap komisi, terutama yang berkaitan langsung dengan urusan perempuan agar bisa maksimal memberikan dorongan perubahan positif melalui peran dan tugasnya sebagai anggota dewan,” kata Mariati.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ismaniar dari Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Aceh dan juga anggota DPRA dari PAN.

Menurut Ismaniar, kita harus dekat dengan partai untuk mendapatkan posisi yang strategis dan tidak perlu patah semangat jika belum berhasil pada Pileg 2019.

“Posisi strategis di Parpol pasti didapat jika kita dekat dengan parpol dan tokoh-tokoh berpengaruhnya. Dekat dalam artian menjadi kader militan dan loyal. Kalau pada Pileg ini belum berhasil, tidak perlu pesimis. Susun kekuatan dan bangun strategi pemenangan pada Pileg berikut. Ingat, kehadiran kita di lembaga legislatif sangat penting untuk menghasilkan kebijakan yang lebih baik,”ucapnya.

Terkait kepemimpinan perempuan, Kepala seksi Sosial Politik dan Hukum, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh, Inayah mengatakan pentingnya memperkuat kepemimpinan perempuan untuk meningkatkan partisipasinya dalam pembangunansampai ke tingkat desa.

“Upaya memperkuat kepemimpinan perempuan harus dilakukan secara terarah dan didukung oleh semua pihak.Integritas, komitmen, loyalitas dan kemampuan komunikasi politik haruspun dimiliki oleh pemimpin perempuan. Saat ini kepemimpinan perempuan di tingkat desa masih terbatas. Kita harapkan semua pihak di desa mulai terbuka dan mendukung memperkuat kepemimpinan perempuan supaya bisa memberi warna baru dalam pembangunan di desa,” tegas Inayah.

Terhadap kerja-kerja perempuan pejabat publik di eksekutif, Kabid Sosbud Bappeda Aceh Utara Inong Sofiarini menyebutkan akan pentingnya dukungan dari anggota legislatif perempuan dan parapihak untuk secara bersama mendorong lahirnya kebijakan dan anggaran yang berpihak pada perempuan.

“Tentunya upaya pemberdayaan dan pemenuhan hak perempuan bisa segera terpenuhi jika kerja-kerja di tingkat eksekutif mendapat dukungan dari legislatif dan semua pihah,” tegas Inong.

Pada saat yang sama, Inong mengingatkan tentang pentingnya mempekuat potensi dan kapasitas diri perempuan pejabat publik.

“Upaya meningkatkan kapasitas diri bagi perempuan pejabat publik menjadi keharusan, seperti kemampuan berkomunikasi dan membangun kerja sama,memantapkan kemampuan penguasaan isu kerjanya, serta membangun jejaring kerja dan mensiknronkan kerja antar lembaga agar upaya pemberdayaan perempuan bisa dilaksanakan dengan baik dan terintegrasi,” tutup Inong.

Terkait pentingnya dukungan nyata anggota legislatif perempuan, anggota DPRK Kota Banda Aceh terpilih, Syarifah Munirah, Tati Meutia Asmara, Kasumi Suljima, dan Devi Yunita menegaskan komitmen untuk mendukung dan bersinergis dengan perempuan di eksekutif dalam upaya pemberdayaan dan pemenuhan hak perempuan di Kota Banda Aceh.

Pertemuan perempuan pejabat publik yang difasilitasi oleh Ketua Presidium Balai Syura, Khairani Arifinmenghasilkan rumusan rencana tindak lanjut dan rekomendasi untuk upaya pemberdayaan dan pemenuhan hak perempuan di Aceh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...