Langsung ke konten utama

BAPAS Kelas II Banda Aceh Teken MOU Dengan Yayasan SIRAH



Banda Aceh, 17/09/19. Potretonline.com. Balai Permasyarakatan Banda Aceh (BAPAS) Kelas II kemarin Senin, 16/09/19 menggelar melakukan penandatanganan nota kesepahaman ( MOU) antara Balai Permasyarakatan Kelas II ( Bapas) Banda Aceh dengan Yayasan Pintu Hijrah (SIRAH) dalam upaya untuk pencegahan dan penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba dan dampak buruk dari narkotika terhadap klien BAPAS Banda Aceh melalui Pascarehab. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Kepala Badan Permasyarakatan Kelas II Banda Aceh, Darwan, SH.MH dan ketua Umum Yayasan Pintu Hijrah (SIRAH), Deddy Saputra.ZM.S.sos.I

Tingginya angka hunian rutan dari kasus narkoba yang jumlahnya hampir 70 persen mendorong pihak Balai Permasyarakatan Kelas II Banda Aceh dan Yayasan Pintu Hijrah (SIRAH) untuk menggalang kerja sama untuk maksud tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Balai Permasyarakatan Kelas II (BAPAS) Banda Aceh, Darwan SH, MH di kantornya di jalan Laksamana Malahayati 06, Krueng Cut, Aceh Besar kemarin bahwa, kegiatan ini juga didasarkan atas semangat pengabdian kepada masyarakat dalam rangka menciptakan masyarakat yang sehat degan tugas dan fungsi kelembagaan masing- masing, sesuai PP No.57 tahun 1999. 

Bapas kelas II Banda Aceh dalam hal ini melakukan pembinaan dan bimbingan kepada klien LAPAS yang sudah bebas bersyarat dan juga kepada anak-anak bekonflik dengan hukum yang jumlahnya juga cenderung meningkat saat ini.













Dalam rangkaian kegiatan tersebut Balai Permasyarakatan Kelas II Banda Aceh juga mengadakan kegiatan penyebaran informasi tentang Adiksi, Narkoba dan kesehatan melalui Edukasi 2, Penguatan dan support melalui metode religi dan lain-lain. Kegiatan ini menjadi sangat penting, mengingat kian meningkatnya angka kasus narkoba yang berimplikasi pada Klien Bapas dan rutan yang semakin tinggi angkanya. Dengan demikian, aktivitas sosialisasi dalam rangka pembinaan dan bimbingan kepada klien secara berkelanjutan pun menjadi sangat penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...