Langsung ke konten utama

Tausiah dan Subuh Berjamaah di Masjid Lapas Lhoknga, Aceh Besar




Lhoknga- Kakanwil Kemenkumham Aceh, Lilik Sujandi memberikan tausyiah usai salat subuh berjamaah di masjid Lapas, Lho Nga, Aceh Besar  pada Jumat, 06/09/19. Kehadiran Kanwil Kemenhumkam Aceh tersebut didampingi oleh Kadivpas Aceh Meurah Budiman dan Kadivyankum Sasmita serta diikuti oleh Plt. Kalapas Banda Aceh yang sekaligus KaLapas Anak, Karutan Banda Aceh, rombongan dari Lapas Banda Aceh dan LPKA dan seluruh petugas Lapas Kelas III Lhok nga  yang sekaligus melaksanakan salat subuh berjamaah di Masjid Lapas Lhoknga.

Dalam Tausiahnya Kakanwil Kemenhumkam Aceh, Lilik Sujandi menyampaikan bahwa salat subuh berjamaah diharapkan menjadi gerakan bersama sebagai esensi keteladanan petugas bagi warga binaan di dalam Lapas. Selain itu pelaksanaan salat subuh merupakan awal pengontrolan kamar hunian di blok, sekaligus mengajak warga binaan untuk melaksanakan salat subuh di kamarnya masing-masing.

“kalau petugasnya bangun tepat waktu salat subuh, lalu membangunkan dan mengajak warga binaan untuk salat subuh, secara otomatis petugasnya mengetahui secara langsung kondisi di kamar hunian . Karena jam rawan seperti waktu subuh lah biasanya petugas teledor dalam melakukan penjagaaan,” jelas Lilik Sujandi.

Kemudian disampaikan juga bahwasanya seorang petugas harus bisa menjadi role model, baik bagi petugas lain maupun warga binaan dengan menumbuhkan mahabbah atau kasih sayang dari diri petugas itu sendiri, dengan memperlakukan warga binaan yang di dalam dengan baik sesuai aturan yang ada. Apabila itu semua sudah dilakukan petugas, niscaya warga binaan akan mengerti dan diharapkan keamanan dan ketertiban di Lapas/ Rutan tercipta dengan baik.

Selesai melaksanakan salat subuh berjamaah, Kakanwil beserta rombongan menuju kamar blok hunian dengan membagikan botol air minum dan membangunkan warga binaan untuk mengajak sholat subuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...