Langsung ke konten utama

Lambhuk dan Ule Kareng, Gampong Ramah Anak



Banda Aceh - Selasa (15/10/2019) Wali Kota Banda Aceh, Aminullah mencanangkan Lambhuk dan Ulee Kareng sebagai gampong dan kecamatan layak anak.

Kegiatan ini berlangsung di halaman komplek Masjid Al Ishlahiyah Gampong Lambhuk. Pencanangan ditandai dengan membuka selubung papan nama serta penanaman pohon oleh Wali Kota. Pada kesempatan itu, Wali Kota juga membagikan secara simbolis Kartu Identitas Anak (KIA) kepada anak-anak desa setempat.

Dalam kegiatan itu juga dihadiri oleh Wakil Wali Kota, Zainal Arifin, Wakil Ketua DPRK, Isnaini husda, ketua TP PKK, Hj Nurmiaty AR, Wakil Ketua TP PKK, Hj Fauziah, Ketua Dekranasda, Ny Buraida Bahagia, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Media Yulizar, Kepala Disdukcapil, Emila Sovayana beserta sejumlah SKPK Banda Aceh dan Muspika Ulee Kareng. Selain itu juga Keuchik Gampong Lambhuk, Rustam turut hadir bersama perangkat gampong lainnya.

Dengan dicanangkannya Lambhuk dan Ulee Kareng sebagai Gampong dan Kecamatan Layak Anak, maka sudah sembilan desa dan lima kecamatan yang telah dicanangkan langsung oleh Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman.

Berbagai rangkaian kegiatan digelar bagi anak-anak seperti perlombaan berupa Rangking 1 dan lomba mewarnai. Selain itu, pada kesempatan itu Wali Kota juga mengukuhkan gugus tugas Gampong dan kecamatan layak anak tersebut. 

Dalam sambutannya, Aminullah meminta kepada orang tua untuk memperhatikan hak-hak dan kewajiban seorang anak. Katanya, banyak hak yang harus diberikan kepada anak-anak dimasa usianya yang masih dalam lingkungan pelajar. 

"Anak-anak itu pada dasarnya punya hak untuk bermain, hak pendidikan, hak kesehatan, hak mendapatkan identitas dan hak perlindungan, ini yang paling utama," ungkap Wali Kota.

Menurutnya, selain hak dasar sebagai anak, anak-anak juga harus mendapat perlindungan ketat, seperti perlindungan dari kekerasan bahkan seksualitas.




"Kekerasan yang diperlihatkan kepada anak itu cenderung akan membentuk karakter yang tidak baik. Jika ada yang mendapati perlakuan terhadap anak, segeralah laporkan," kata Aminullah.




Ia juga menyampaikan kepada para orang tua agar diberikan bimbingan dengan baik kepada anak. “Kami meminta pengawasan kepada setiap orang tua terhadap anak agar tidak menjadi korban trafficking, pelecehan seksual, dan juga bahaya peredaran narkoba. begitu kepada aparat gampong serta pihak berwajib untuk menjalankan fungsi pengawasan sehingga setiap anak dipastikan mendapat perlindungan yang layak di kota ini,” pintanya.




Disamping itu, pencanangan Gampong dan Kecamatan layak anak itu sesuai dengan target Pemko pada tahun 2021 nanti untuk dapat menjadi Kota Layak Anak (KLA) sesuai dengan kriteria tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.




Saat ini Banda Aceh telah ditetapkan sebagai kota layak anak kategori madya, dan akan terus ditingkatkan lagi, sebutnya.




"Dalam hal ini Pemko menunjukkan komitmen tinggi, kita ingin naik kelas lebih cepat. Tentu semua ini tidak bisa berjalan dengan sendirinya, dibutuhkan seluruh dukungan dari elemen masyarakat untuk bergerak bersama mewujudkannya,” kata wali kota.




Keuchik Gampong Lambhuk, Rustam menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah kota Banda Aceh yang telah mempercayakan Gampong Lambhuk menjadi Gampong layak anak, "kami senantiasa berkomitmen untuk mendukung visi misi Banda Aceh sebagai Kota Layak Anak," tutupnya.(riz)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...