Langsung ke konten utama

Menulis Seperti Bercerita



Oleh Tabrani Yunis

Berbagi atau sharing itu bukan hanya sekadar indah, tetapi lebih dari itu. Ya berbagi itu, khususnya berbagi kebaikan, seperti berbagi pengalaman, berbagi ilmu dan berbagi ketrampilan yang bermanfaat merupakan perilaku yang baik dan sangat bermanfaat. Dikatakan demikian, karena sesungguhnya, ketika kita  berbagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kepada orang lain, tidak ada yang akan berkurang daru diri kita. Tidak ada pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang berkurang setekah kita membagikannya kepada orang lain. Malahan sebaliknya, semakin sering kita berbagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampulan kepada orang lain, maka semakin banyak ilmu pengetahuan, ketrampilan dan  serta pengalaman yang kita dapatkan. Di situlah letak indah dan bermanfaatnya berbagi tersebut.

Itu pulalah yang menjadi trigger dan penyemangat bagi penulis untuk selalu berbagi kepada orang lain. Salah satu strategi berbagi yang sebenarnya sangat mengasyikan tersebut ada;lah lewat kegiatan menulis. Andai boleh berkata bahwa aksi berbagi ilmu, pengetahuan dan ketrampilan kepada orang lain tersebut, bagi penulis, berbagi atau sharing, boleh dikatakan sudah menjadi kebiasaan, baik secara lisan, maupun lewat tulisan. Baik di berbagai media social atau medsos, maupun di kegiatan-kegiatan lain, seperti workshop, seminar, diskusi dan sebagainya.

Pokoknya, aktivitas berbagi atau sharing  kepada teman-teman di era digital ini, semakin banyak dan beragam, semakin mudah dan mengasyikan. Lisah saja bagaimana aktivitas berbagi yang dilakukan oleh masyarakat generasi milenial lewat media social saat ini. Sungguh tidak sanggup kita hitung berapa banyak jumlah orang yang melakukan aktivitas berbagi lewat media social tersebut  dalam setiap detik. Sungguh tidak mampu kita menghitungnya. Jangankan untuk menghitung di semua media social, di satu media  social saja, seperti facebook, atau yang lainnya, tidak mampu kita hitung.

Jangankan menghitung jumlah postingan orang lain, jumlah postingan berbagi yang penulis lakukan setiap hari, tidak pernah terhitung. Yang jelas, selama ini penulis selain berbagi pesan  kepada teman-teman atau publik lewat media yang tersedia saat ini, seperti whatsapp, Facebook, LinkedIn, Twitter atau media sosial lainnya. Berbagi tulisan adalah aktivitas yang juga tidak atau jarang  dilupakan.  Penulis sangat  suka membagi tulisan sendiri kepada public, lewat medsos yang penulis miliki, yakni facebook, twitter, lindkedin dan whatsapp. Itu adalah pilihan terbaik, dari pada menyebar berita bohong atau kebohongan alias hoax. 

Namun, penulis selayaknya juga memohon maaf, karena jarang atau  tidak mempertimbangan apakah tulisan itu mengganggu para penerimanya. Bisa jadi, penulis juga seperti lupa bahwa apakah teman, penerima kiriman tulisan saya tersebut tertarik untuk membacanya. Juga tidak mengidentidikasi siapa yang membaca tulisan tersebut. Secara fakta, itu penulis lakukan dengan niat yang utama untuk berbagi. Lebih jauh dari itu, bisa sebagai motivasi bagi teman-teman atau para pembaca yang punya niat, potensi untuk menulis. Selain itu, boleh dikatakan bahwa dengan cara berbagi tulisan sendiri, dapat memberi banyak manfaat lain, seperti kata orang di negeri Paman Sam atau orang Inggris  “writing for reminding“, atau bahkan dalam bahasa kita bisa sebagai silaturahmi literasi.


Terkait soal berbagi lewat tulisan tersebut, penulis teringat dengan apa yang penulis temukan pada pagi Jumat, 11 Oktober 2019. Ya,  setelah beberapa saat tidak menulis di Kompasiana,  lalu pada Kamis malam, penulis  menuliskan sebuah tulisan yang berjudul “. Ketika aku Tidak Menulis “ yang posting di Kompasiana.com. Lalu, kemudian tulisan tersebut  dibagikan atau share di media sosial. Kemudian, setelah diedarkan de medsos, ada banyak teman yang memberikan apresiasi dengan memberikan tanda like atau lainnya. Ada juga yang memberikan komentar yang juga beragam. Tentu saja dengan niat baik, difahami bahwa tulisan tersebut sudah dibaca orang dan orang-orang pun memberikan respon.

Di antara sekian banyak respon tersebut, ada satu respon yang menarik bagi penulis, hingga mememberikan ide baru untuk menulis lagi. Seorang mahasiswi FKIP Unsyiah, jurusan tata busana yang sudah dua kali menulis di www.potretonline.com, memberikan tanggapan. Katanya, tulisannya seperti bercerita. Dengan kata lain, menulis seperti bercerita. Maka, judul tulisan ini pun menjadi sama, yakni “ Menulis seperti bercerita”.

Nah, membaca tanggapan tersebut, sebenarnya menimbulkan banyak tafsir. Namun, sebagai sebuah tanggapan positif dari pembaca, maka respon tersebut perlu kiranya dikonformasikan dan bahkan diulas lebih jauh. Secara sederhana, menulis seperti bercerita itu adalah bukti bahwa menulis itu sebenarnya mudah, karena sama dengan kita bercerita. Begitu mudah bukan? Ya, tentu saja mudah. Karena memang, secara normative bahwa ketika kita menulis, sesungguhnya kita bercerita. Bercerita tetang sebuah kegiatan, sebuah kejadian, atau sebuah proses terjadi atau terbentuknya sesuatu. Sehingga, banyak tulisan orang yang ditulis dengan cara mengubah cerita dalam bentuk lisan, ke dalam cerita yang tertulis atau tulisan.  Sekali lagi, bercerita lewat tulisan dengan memindahkan cerita lisan ke dalam bentuk tulisan adalah sebuah kemudahan dalam mengembangkan ketrampilan dan aktivitas menulis.

Menulis seperti bercerita, akan semakin menarik dan mudah, ketika kita menulis dengan cara mengalir. Membuat atau menulis sebuah tulisan dengan cara mengalir itu, merupakan cara menulis yang mudah dibaca dan mudah difahami pembaca. Sehingga, menulis yang mengalir, selain memudahkan seorang penulis mengeluarkan pikiran secara tertulis dan mengalir, juga mempermudah para pembaca membaca, memahami dan menganalisis isi bacaan yang dibaca. Dengan demikian, maka dengan gampang kita berkata, menulis itu adalah bercerita dalam bentuk tulisan. Agar cerita dalam bentuk tulisan (tertulis) bisa ditulis dengan mudah, maka salah satu jalnnya adalah menulis dengan bahasa yang mengalir. Jadi, menulis menjadi semakin mudah. Selamat menulis. Silakan bercerita secara tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...