Langsung ke konten utama

UIN Ar-Raniry Bentuk Pusat Kajian Keluarga Bersama KEMENAG RI dan New Castle University, Australia


Oleh Harri Santoso
Pada tanggal 30 September – 1 Oktober 2019, saya beserta 3 dosen UIN Ar-Raniry Dr. phil Saiful Akmal, S.Ag.,M.A, Dr. Husni Mubarrak dan Ruslan., MLis memenuhi undangan Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta dalam rangka seleksi beasiswa program singkat International Graduates Certificates of Family Studies(IGCFS) 2020 yang berlangsung di Kantor Pusat Kemenag di Jalan Merdeka Utara Jakarta Pusat. Bergabung bersama 31 Dosen lainnya yang berasal dari 9 UIN seluruh Indonesia, kami mengikuti serangkain proses seleksi peserta Program IGCFS 2020, mulai dari seleksi wawancara kesiapan psikologis bagi peserta hingga presentasi proposal penelitian di depan penguji dari University of New Castle, Sidney, Australia. 
            Sebagai informasi,  program ini adalah program yang telah diinisiasi oleh kementerian agama bersama 10 UIN seluruh Indonesia di antaranya, UIN Sumatera Utara, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Fattah Palembang, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Walisongo Semarang, UIN Mataram, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Alauddin Makassar dan IAIN Surakarta bersama dengan New Castle University. Para peserta yang lolos nantinya akan melakukan riset di Indonesia selama 3-6 bulan dan selanjutnya akan berada di New Castle Universityselama 4 bulan, yakni Juli-November 2020. Selama di Australia, peserta akan mengikuti kuliah selama 1 semester dengan beberapa kursus antara lain; Foundations in Family Studies; Family Diversity; Engaging Families danCommunities danSpecial Project in Family Studies.Selain ditargetkan menghasilkan artikel yang harus dimuat di jurnal international, para peserta nantinya setelah kembali ke tanah air akan menjadi tokoh yang akan mengembangkan pusat kajian keluarga di masing-masing universitas asal mereka dan terlibat aktif di Network of Indonesian-Australian Family Studies(NIAFS) sebuah jaringan kerjasama antara Indonesia dan Australia terkait dengan pengembangan pusat kajian keluarga di 2 negara tersebut dan tentunya pusat-pusat kajian yang akan dibentuk nantinya mampu memberikan kontribusi positif bagi kedua negara bagi dalam tataran teori, maupun implementasi di tengah-tengah masyarakat. 
            Jika merujuk kondisi keluarga Indonesia saat ini, masih banyak keluarga di negeri kita yang mengalami kerentanan, sehingga belum dapat mencapai kesejahteraan yang diinginkan. Untuk mencapai visi keluarga sejahtera, diperlukan ketahanan keluarga dimana keluarga harus mampu memenuhi segala kebutuhannya terutama yang terkait dengan kebutuhan dasar manusia yaitu sandang, papan dan pangan.
            Sebagaimana kita ketahui bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki peran strategis dan penting dalam menentukan kualitas bangsa kita ke depan. Keluarga juga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai agama, moral, etika dan pembentukan kepribadian anggotanya. Di samping itu, keluarga merupakan tempat di mana seseorang pertama kali dididik dan dibesarkan serta dikenalkan dengan kehidupan yang membuat seseorang tumbuh dan berkembang. Mengingat pentingnya peran keluarga bagi masyarakat, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi yang menjelaskan bahwa keluarga merupakan wahana utama untuk mendidik, mengasuh dan menyosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggota keluarganya agar dapat menjalankan fungsi di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera. Dalam konteks Indonesia,  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Indonesia menyebutkan 8 fungsi keluarga yaitu: Fungsi agama, Fungsi Kasih Sayang, Fungsi Perlindungan, Fungsi social budaya, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pembinaan linkungan.
            Dari laporan yang penulis sampaikan di atas menunjukan pentingnya pusat kajian keluarga hadir tidak saja di UIN Ar-Raniry. Namun juga di tengah-tengah masyarakat Aceh, melihat fenomena-fenomena tentang kerentanan keluarga seperti perceraian, penganiayaan, perselingkuhan masih santer terdengar di provinsi yang berjuluk Serambi Mekkah ini.  Semoga dengan keikutsertaan akademisi UIN Ar-Raniry di kegiatan di atas, tidak saja memberikan efek kepada para peserta, namun lebih dari itu kehadiran dan peranan kampus dalam menciptakan keluarga Aceh dan Indonesia yang sejahtera tentulah amat sangat dinantikan sebab keberadaan kampus di Indonesia memiliki 3 peran yaitu pendidikan, pengajaran dan pengabdian masyarakat. Melalui kegiatan di atas diharapkan mampu memberikan wawasan dan warna baru dalam menciptakan keluarga Indonesia yang sejahtera. Karena kita berkeyakinan bahwa Indonesia kuat adalah susunan dari keluarga yang sehat dan sejahtera, Semoga.

Harri Santoso., S.Psi.,M.Edadalah Pengajar di Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry. e-mail: harri.santoso@ar-raniry.ac.id.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...