Langsung ke konten utama

Cara Kalangan Santri Lansia Jaga Salat Berjamaah


Aceh Jaya – “Suatu ketika di malam hari, hujan turun sangat lebat. Jamaah sedang melaksanakan salat magrib dengan kusyuk. Ternyata air hujan telah merembes ke dalam musala. Air menggenangi lantai setinggi mata kaki jamaah. Semua sajadah dan kitab suci Alquran basah. Tapi jamaah tetap larut dalam ibadah salat hingga selesai,” ujar Maturidi, salah seorang Pengurus Dayah Darul Arifin Al-Abati kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh, Jaya, Aceh Jaya, Kamis (7/11).

Dayah tersebut didirikan oleh ulama besar Aceh dari daerah pantai barat selatan Syekh H Hasan Al-Abati sekitar tahun 1963, terkenal dengan tarikat Nahsyabandi. Syekh Hasan merupakan murid langsung dari ulama besar Aceh yakni Abuya Muda Wali Al-Khalidi. Keduanya berbesanan setelah anak dari Syekh Hasan dan Abuya Muda Wali menikah. Syekh Hasan ini juga satu angkatan belajar agama dengan Abon Aziz Samalanga.

Kini, Darul Arifin Al-Abati menampung santri lanjut usia berumur sekitar 50 hingga 82 tahun. Rata-rata santri lansia berasal dari kalangan perempuan. Meskipun sudah berusia senja, semangat mereka menimba ilmu di dayah yang terletak di Jalan Syech H Hasan Abati Gampong Lhuet, Jaya, Aceh Jaya, tidak lekang waktu. Mereka diantar mengaji oleh anak, cucu, atau kerabatnya ke sana. Maturidi kerap menawarkan tumpangan pulang santri lansia menggunakan mobilnya.

“Mereka (santri lansia) ingin berada di dayah dan belajar karena ingin menyelamatkan salat jamaah. Dengan bersama mereka menjadi semangat beribadah,” ucapnya Maturidi yang juga Ketua Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh Jaya – ACT Aceh.

Ia menuturkan dayah tersebut diupayakan bisa mengakomodir santri lansia yang ingin menetap di dayah demi optimalnya mereka beribadah. Maturidi begitu tersentuh hatinya kala mendengar ungkapan hati salah seorang santri lansia. “Hai kami, meskipun sudah tua, kami ingin tetap belajar. Dengan bersama-sama kami bisa melakukan banyak hal. Kalau misalnya sakit juga ada yang melihat,” Maturidi menirukan ucapan santri tersebut.

Aktifitas belajar mengajar pada pada hari Selasa, malam Selasa, malam Jumat berlangsung di musala berukuran 20x20 meter yang sudah berusia lebih setengah abad. Mereka belajar tentang akhlak, salawatan, tawajjuh, serta meresapi masa tua. Tidak hanya itu, santri lansia diajak membiasakan bersedekah sebelum zuha minimal seribu rupiah. Kalau mereka tidak punya uang, pihak dayah memberikan mereka uang agar disedekahkan.

Di samping itu, sebulan sekali pihak dayah bekerja sama dengan Puskesmas setempat mendatangkan dokter, guna mengecek kesehatan santri lansia. Sementara dari pihak dayah juga mengajak santri lansia berolahraga ringan dengan membersihkan lingkungan dayah waktu pagi. 

Dulu, masih ada beberapa santri lansia menginap di sana. Terdapat lima kamar inap santri, tiga kamar mandi dan satu dapur yang bisa digunakan. Tetapi hal tersebut mustahil dilaksanakan kembali karena dayah tidak lagi memiliki biaya operasional.

Namun demikian, di tengah semangatnya santri lansia, pengurus dayah juga mengalami kendala dari segi fasilitas musala. Musala yang selalu digunakan santri lansia belajar dan beribadah tersebut daya tahannya kian menurun. 

Musala tersebut dibangun tanpa pondasi, atapnya sudah bocor, lantainya sudah lebih rendah dari tanah, dindingnya keropos, plafonnya sudah rusak, lantainya 30 cm lebih rendah dari teras, dan tinggi lantai dengan plafon sudah 2,5 meter. “Kalo hujan airnya merembes ke dalam,” ungkapnya.

Para dermawan dapat ikut serta mengulurkan bantuannya untuk Dayah Darul Arifin. Bantuan dapat diberikan melalui Bank Aceh Syariah 010 0193 000 9205, BNI Syariah 66 00011 008, dan Bank Syariah Mandiri 7089 7860 23 atas nama Aksi Cepat Tanggap. Hubungi ACT Aceh di nomor telepon 0651-7315352, WhatsApp 0822 8326 9008 atau datang langsung ke Kantor ACT Aceh di Jalan Tgk M Daud Beureueh No 46, Gampong Keuramat, Kuta Alam, Banda Aceh.

Dayah ini pernah vakum aktifitas selama setahun akibat tidak adanya biaya. Sekarang, Maturidi bersama pengurus dayah berupaya mengembangkan kembali dayah ini. Pengurus dayah ingin membangun musala baru serta menutupi biaya operasional melalui semangat kedermawanan. Sehingga, keinginan santri lansia belajar dan beribadah terpenuhi. “Mudah-mudahan, semangat kedermawanan kita tergerak mendukung jalan aktifitas belajar mengajar di dayah warisan ulama besar Aceh ini,” tutupnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...