Langsung ke konten utama

Sikat Gigi Bersama di SLB Negeri Pembina Provinsi Aceh



dok. Laura


Murid-murid SLB Negeri Pembina Provinsi Aceh awalnya kebingungan dengan kehadiran kakak-kakak berseragam putih. Yang ada di pikiran mereka saat itu adalah jarum suntik dokter. Namun setelah para mahasiswa memperkenalkan diri mereka sangat antusias dengan kehadiran kakak-kakak mahasiswa. Bahkan mereka tidak merasa takut dengan alat-alat medis seperti anak pada umumnya. Hal ini disebabkan karena kakak-kakak mahasiswa sangat ramah dan dengan penuh kelembutan serta kasih sayang memeriksa kebersihan gigi dan mulut adik-adik berkebutuhan khusus. Sekolah Luar Biasa untuk anak berkebutuhan khusus yang beralamat di Jalan Rel Kereta Api Lama, Gampong Jurong Peujera, Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar ini yang mendidik anak-anak dengan berbagai macam ketunaan seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, Autis, dan beberapa syndrom lainnya yang mengakibatkan mereka mengalami hambatan belajar serta membutuhkan pelayanan khusus.

Sikat gigi itu sendiri telah rutin dilakukan murid-murid SLB Negeri Pembina. Beberapa kelas mewajibkan murid-muridnya mencuci tangan dan menyikat gigi setelah makan. Hampir semua murid membawa bekal dari rumah, maka guru kelas masing-masing yang mengarahkan dan membimbing kegiatan sikat gigi setiap harinya. Kebersihan gigi dan mulut tentu sangat penting bagi kita semua, apalagi pada anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Konon lagi pada anak berkebutuhan khusus.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kesehatan gigi dan mulut menjadi masalah umum pada masyarakat kita. Hal ini terjadi karena kurangnya kepedulian kita pada kebersihan dan ketertiban dalam menjalani hidup yang sehat. Jika seorang anak atau murid menderita sakit gigi, maka akan berdampak pada kegiatan belajar mengajar di kelas dan sekolah. Anak tidak dapat berkonsentrasi, bahkan si anak tidak memiliki semangat untuk bermain dan bercengkerama bersama teman-temannya. Hal ini tentu sangat mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari. 

Kehadiran mahasiswa dari Program Studi Diploma IV Terapi Gigi Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes RI tersebut berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 04 dan 05 Februari 2020. Dalam dua hari mahasiswa-mahasiswi melakukan pemeriksaan pada masing-masing murid. Serta memberikan sosialisasi dan praktik bagaimana cara menyikat gigi yang baik dan benar. 

Mahasiswa yang berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang ini datang sukarela, didampingi dosen pembimbingnya, Ibu Sisca Mardelita, S. Si. T, M. Kes dan Ibu Eka Sri Rahayu, S. S. T, Dalam rangka kegiatan “Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut Serta Sikat Gigi Bersama murid SLB Negeri Pembina Provinsi Aceh.”Mereka baru saja menyelesaikan Praktik Belajar Lapangan selama 14 (empat belas) hari di Meureudu Kabupaten Pidie Jaya. Pengabdian mereka pada masyarakat bekerja sama serta di dukung oleh Bupati dan Dinkes Pidie Jaya, dengan program Pelayanan Asuhan Keperawatan Gigi dan Mulut Keluarga. Dengan begitu, adik-adik mahasiswa tingkat akhir ini sudah pasti terampil dan menguasai praktik pemeriksaan gigi pada anak-anak. 

Kegiatan ini berjalan sesuai dengan program rencana kerja UKS SLB Negeri Pembina yang dikelola oleh Ibu Laura Oktaviany Marantika, S. Pd. Berdasarkan MoU antara Program Studi Diploma IV Terapi Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes RI provinsi Aceh dan SLB Negeri Pembina Provinsi Aceh, maka jelaslah bahwa kegiatan ini akan berjalan dan terus dilanjutkan oleh mahasiswa-mahasiswa dan dosen pembimbing dalam hal Sosialisasi, Pemeriksaan dan Penanganan Kesehatan Gigi dan Mulut di SLB Negeri Pembina Provinsi Aceh ini. Harapan kita bersama, semoga pengabdian dan kerja sama adik-adik Poltekes Prodi Gigi ini dapat bermanfaat bagi anak didik dan kita semua. (Laura)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...