Langsung ke konten utama

UNTUK APA GELARKU NANTI?

foto. dok. Pribadi

Oleh Ismiyati
Mahasiswi Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Ketika kita membaca sebutan gelar S.Ked, S.Pd,S.E,S.T pada ujung nama seseorang, apa yang terpikir dalam benak kita? Orang yang hebat, orang yang berpendidikan, atau bahkan  sebagai bukti di atas selembar kertas saja?  Bukti yang diperoleh atau mendapatkannya membutuhkan banyak biaya, pengorbanan, kerja keras kemandirian. Tidak tahu jam untuk belajar. Bisa saja dari pagi ke pagi, bukan karena seorang itu pemalas atau bertele-tele, tetapi karena banyaknya tugas  yang bukan hanya dari satu dosen,  tetapi ketika semua menyerang dan aplikasi tiap menit bernotif grup WA selalu bernotif dan apa isinya “tolong jawab pertanyaan ini diketik yang rapi jangan copas jam 12.00 WIB dikumpul. Tidak boleh telat. Yang telat tidak diterima lagi”. 
Nah,  apa yang harus mahasiswa lakukan? Bahkan ada di kampus  yang namanya asrama yang tujuannya untuk pembinaan dan pembentukan karakter Islami yang di dalamnya termasuk tahsinul quran, tsaqafah islamiah, conversation, muhadatsah, dan hafalan juz 30. Semua ini harus mahasiswa kerjakan. Sedangkan hidup seseorang tidak ada yang sama.  Ada yang sedang mengalami hambatan, ada yang sedang keadaannya tidak mendukung, bahkan ada yang sedang mengalami faktor keluarga (broken home). Lalu, apa yang dipikirkan mahasiswa, putus asa atau mengerjakan apa yang diberikan? Sedangkan yang memotivasi hanya diri sendiri. Sakitnya, ketika mengeluh akan hal itu apa yang di katakan “kami juga dulu seperti itu” “itu risiko kuliah” dan itulah yang terdengar. Namun, untuk apa semua ini? Gelar?
Gelar adalah awal (prefix) atau akhiran (suffix) yang ditambah pada nama seseorang untuk menandakan kehormatan, jabatan resmi, atau kualifikasi akademis atau profesional. Ketika seseorang harus berusaha untuk mendapatkannya dan hanya orang tertentu yang bisa menjalankannya. Bahkan gelar bisa ditukar dengan seharga mobil, rumah dan lain-lain.  Apakah itu ada keadilan banyaknya orang yang berusaha berkorban dan ada orang yang memiliki uang lebih dari yang berusaha dengan santai membuat gelar pada ujung nama sebagai bukti orang hebat? Lalu bagaimana dengan tugasnya? Apakah maksimal apa itu yang terbaik? Bagaimana dengan tanggung jawabnya? Itu yang jadi pertanyaan sekarang.
Setelah mendapatkan gelar dan  wisuda, keluarga berbondong-bondong memakai pakaian bagus untuk menyaksikan anaknya masuk dalam nama surat keputusan lulusan dan pemberian penghargaan. Keluarga bangga dan bersuka cita. Setelah itu apa yang harus dilakukan setelah mendapatkan gelar?  Apa langsung ada lowongan pekerjaan atau ada yang sudah menjanjikan? Atau sebaliknya duduk di rumah dan jadi beban orang tua? Selayaknya pertanyaan-pertanyaan ini kita cari jawabnya.
        Dalam masyarakat kita saat ini, yang terjadi sekarang, banyaknya lulusan tapi tidak adanya penampung pekerjaan. Banyak orang yang berkualitas, tapi tertindas dengan tingginya rupiah, sehingga akan jadi apa gelar tersebut?  Apa bisa menjanjikan masa depan dan apa bisa menanggung masa depan?  Ketika adanya ujian tes (cpns), semua ikut berbondong-bondong untuk mengharapkan salah satu lulusan dari tes tersebut.  Faktanya dari 2000 peserta dalam satu bidang hanya 1, 2 atau 3 yang diterima. Selebihnya bagaimana?   Apa yang harus mereka lakukan?  Apa masih harus menyusahkan orang tua?.

        Fakta lain juga sudah memperlihatkan bahwa banyak lulusan memilih menikah setelah lulus sarjana untuk menyempurnakan ibadah. Lalu bagaimana dengan nantinya setelah menikah, karena belum punya pekerjaan tetap?  Apaka menjadi juru parkir atau menjaga seles untuk memenuhi kebutuhan?  Apakah gaji yang diterima sesuai kebutuhan sekarang yang serba meningkat dan mahal? Belum lagi kebutuhan anak yang semakin majunya kehidupan, semakin canggih yang dipakai.  Semakin banyak juga tanggungan, atau bahkan tinggal menetap bersama orang tua dan orang tua yang menjadi tiang untuk mereka. 

        Ya, banyak kasus yang kita dengar di mana-mana gelar S.H jadi pekerja bangunan. Gelar S.Pd jadi  sales. Apakah itu yang dijanjikan oleh gelar tersebut?  Apa tujuan dari gelar tersebut?  Apa yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi jumlah pengangguran yang bukan hanya pengangguran karena putus sekolah, tetapi pengangguran karena keadaan dan bahkan penggangguran yang sudah ada gelar  apa pemerintah mampu menampung semua itu?
        Kasus lain, banyaknya pekerja yang hanya mengandalkan ijazah bodong yang ditukar dengan uang.  Apa yang akan terjadi dengan Negara kita yang tercinta ini?  Mengapa banyak orang yang tertindas di bawahnya?,  Untuk menghapkan adanya kerja kontrak saja sulit. Bagaimana agar tidak menyia-nyiakan gelar yang sudah diraihnya. Apa yang mereka harus lakukan akan hal itu.
Dari kasus yang kita dengar, sudah menjadi makanan sehari-hari, apa hanya itu yang diharapkan seorang yang bergelar? Tentu saja tidak! Tuhan Yang Maha Esa sudah  mengatur semua rejeki setiap hambanya. Jika mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang diharapkan, maka bersyukurlah dan tumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri. Karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.   Jika seseorang itu tidak bisa mendapatkan pekerjaan dari gelar tersebut jangan berputus asa, gunakan gelar tersebut pada kehidupan sehari-hari.  Jadikan pelajaran untuk orang-orang disekitar kita  dan aplikasikan dalam keseharian. Carilah usaha baru. Jangan gunakan waktu untuk menunggu. Dikatakan demikian, karena seseorang bisa sukses dalam karir, tidak hanya karena pekerjaan yang mengggunakan dasi, tetapi banyak usaha yang menjanjikan masa depan.  Oleh sebab itu kita harus  ingat, “seorang yang bisa sarjana tidak harus orang tuanya juga sarjana”. Keep spirit!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...