Langsung ke konten utama

Lele Asap Khas Kluet Timur


Oleh Baihaki
Berdomisili di Banda Aceh



Memasuki bulan suci Ramadhan, Lele Asap ini atau dalam Bahasa Kluet "Itu Daing" banyak digemari oleh masyarakat di sana sebagai salah satu menu buka puasa dan jelang sahur.

Ikan Lele ini masih alami yang hidup di rawa-rawa atau di suak. Warnanya agak kekuning-kuningan, berbeda sekali dengan Lele Jumbo yang dipelihara dalam kolam.

Selain rasanya yang sangat enak, juga banyak mengandung protein. Ikan Lele ini terdapat di Gampong Tanah Munggu, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan.

Gampong Tanah Munggu salah satu desa yang berada dalam kawasan pedalaman di Kluet Timur, namun tidak terlalu jauh dari ibukota kecamatan.

Akhir-akhir ini habitat Ikan Lele yang hidup di rawa-rawa dan suak Gampong Tanah Munggu, jumlahnya tidak begitu banyak sehingga harganya semakin mahal.

Berkurangnya habitat Ikan Lele ini akibat dari penebangan pohon kayu yang berada di rawa-rawa yang dijadikan lahan perkebunan masyarakat.

Selanjutnya berkurangnya suak-suak yang terdapat di Tanah Munggu, bisa jadi suak yang dalam sudah ditimbun dengan tanah untuk dijadikan lahan persawahan baru, sehingga habitat Ikan Lele ini semakin berkurang.

Ikan Lele kampung ini bisa dibudidayakan melalui pemeliharaannya di kolam, namun kesulitannya adalah mencari bibitnya dalam jumlah yang banyak.

Harga Ikan Lele ini bisa dijadikan sumber ekonomi masyarakat dengan harganya yang sangat mahal. Di pasaran harganya mencapai Rp.70.000 hingga Rp.85.000,- apalagi yang sudah diasapkan, tentu harganya menjadi dua kali lipat.

Lele Asap ini sangat enak digoreng dengan sambal cabe hijau, apalagi tetesan minyak dari ikan lele itu sangat alami dan gurih membuat air liur kita meleleh.

Selain digoreng, Lele Asap ini sangat enak digulai lemak dengan daun pakis campur pucuk daun talas, kalau bahasa kami namanya kumbahang.

Lele kampung yang sudah diasap ini menjadikan salah satu kuliner khas dari Kluet Timur. Semoga Lele Asap ini tetap bertahan meskipun habitatnya semakin berkurang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...