Langsung ke konten utama

Penyembuhan Bumi Di balik Pandemi Covid-19



Oleh  Yolanda
Mahasiswa Jurusan Statistic, FMIPA, Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh

Di awal tahun 2020 ini, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bumi tengah digemparkan dengan wabah Corona atau Covid-19. Wabah ini tidak hanya melanda sebuah desa, kota, atau negara, melainkan dunia.  Penyebaran Covid-19 terbukti begitu luar biasa luas dan cepat. Bagaimana tidak, setelah diinformasikan bahwa sebuah kota di China terinfeksi Covid-19, selanjutnya kasus penderita Covid-19 terus meningkat tajam di seluruh sudut China.  Tak berhenti sampai di situ, penyebarluasan Covid-19 terus dilaporkan meningkat dengan begitu pesatnya ke berbagai negara di dunia. Adapun saat ini, Covid-19 telah berhasil menginvasi hampir seluruh negara di dunia ini.
Badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization) juga telah mendeklarasikan bahwa Covid-19 ini sudah menjadi wabah atau pandemi. Sebab penyebarluasan serta efeknya yang begitu cepat dan pesat. Namun demikian, di balik merebaknya wabah Covid-19, ternyata bumi juga mengalami “penyembuhan diri”. Hal ini terjadi karena adanya penerapan lockdown di sejumlah negara di dunia ini. Penerapan lockdown ternyata sangat berefek terhadap kelestarian alam lingkungan kita. Udara bisa menjadi lebih bersih dan sehat, risiko global warming menurun, serta mendukung manusia dalam melawan Covid-19.
Penurunan Tingkat Polutan dari Penerapan Lockdown
Data yang ditunjukkan oleh Carbon Brief menjelaskan bahwa dalam satu bulan penerapan lockdown di China, telah menurunkan emisi gas CO2 sebesar 25%. Kemudian setelah dua bulan penerapan lockdown, China juga masih memiliki tingkat emisi CO2 yang lebih rendah dari level normal. Data lain yang disajikan oleh Carbon Brief menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 dapat memicu penurunan emisi gas CO2 tahunan terbesar. Bahkan penurunan emisi gas CO2 ini juga melebihi penurunan selama krisis ekonomi dan periode perang sebelumnya.
Penurunan emisi gas CO2 tentu akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan suhu bumi. Emisi gas CO2 yang tinggi akan mengakibatkan efek rumah kaca yang kemudian meningkatkan temperatur di bumi. Dengan penurunan emisi gas CO2 tersebut, maka hal ini akan memberikan dampak yang positif dalam menangani masalah global warming.
BBC News juga menunjukkan data yang signifikan terkait penurunan tingkat emisi gas NO2 di United Kingdom atau UK setelah adanya penerapan lockdown. Sebagian kota di UK menunjukkan penurunan tingkat NO2 lebih dari 60% dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama. Hal ini tentu menunjukkan hal yang sangat luar biasa terkait dengan “penyembuhan bumi”. Setelah bertahun-tahun bumi seakan sekarat oleh pencemaran udara yang begitu tinggi di berbagai wilayah di dunia, bumi kini sejenak memiliki kualitas udara yang bersih dan sehat.
Semua ini tidak bisa lepas dari adanya wabah Covid-19 yang menuntut manusia di berbagai negara untuk menerapkan lockdown sementara. Dari penerapan lockdown, akhirnya terjadi penurunan penggunaan kendaraan bermotor, penghentian arus lalu lintas penerbangan, penurunan produksi pabrik, dan sebagainya yang berdampak pada kualitas udara.
Pengaruh Udara Tercemar Terhadap Pandemi Covid-19
Wabah Covid-19 merupakan jenis penyakit yang baru, sehingga belum banyak hasil penelitian terkait dengan penyakit tersebut. Meskipun demikian, para peneliti terus melakukan penelitian guna mendapatkan informasi yang penting seputar Covid-19 yang bermanfaat bagi umat manusia. Salah satu penelitian menunjukkan hasil yang mengejutkan. Penelitian ini dilakukan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health terkait dengan hubungan antara tingkat polutan udara dengan tingkat kematian akibat Covid-19 di Amerika Serikat. Penelitian tersebut dilakukan dengan menganalisis sejumlah 3.080 wilayah, kemudian membandingkan tingkat polusi udara dengan jumlah kematian akibat virus Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang hidup selama beberapa dekade di daerah dengan polusi partikulat yang tinggi memiliki kemungkinan 15% lebih tinggi daripada orang yang tinggal di wilayah dengan polusi yang lebih kecil dari 1 mikrogram per meter kubik.
Dengan adanya hasil penelitian ini, diketahui bahwa wilayah dengan pencemaran yang rendah sangat bermanfaat dalam melawan Covid-19. Hal ini sejalan dengan program lockdown yang mampu mengembalikan bumi ke keadaan yang sehat, dimana tingkat emisi CO2 dan tingkat gas NO2 menurun. Di balik pandemi Covid-19 yang melanda umat manusia ini, ternyata bumi juga mendapatkan dampak yang luar biasa. Bumi memiliki kesempatan untuk memulihkan diri setelah “sekarat” akibat ulah manusia.
Diharapkan semua ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat manusia untuk bisa membenahi diri agar tak kembali menyengsarakan bumi yang juga rumah dan tempat berpijak bagi umat manusia sendiri. Kita sebagai manusia harus bisa lebih menjaga bumi tanpa harus ada tuntutan sebagaimana Covid-19 yang memaksa manusia untuk berubah. Adapun caranya bisa mulai dari hal yang sederhana, kita bisa bersama melawan Covid-19 serta mengembalikan bumi ke kondisi agar tetap layak, sehat, dan aman untuk kita huni.


Komentar

  1. Bosan dengan gaya yang sekarang? mau ikutan trendy tapi bingung yang bagaimana, kunjungi link ini untuk mengetahui apa yang lagi trendy bit.ly/2Y3olup dan juga jangan lupa untuk tetap memperhatikan style link alternatif hottogel kita setiap harinya dong broo, hari gini masih ketinggalan zaman apa kata temen lu bro

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...