Langsung ke konten utama

Kiat Srikandi Banna Tani Putar Ekonomi



Banda Aceh - Senyum merekah di kebun kangkung nan hijau. Senda gurau berulang pecah, saat belasan perempuan itu mencabut kangkung. 

“Ini panen yang kedua setelah kami mulai sejak bulan Oktober lalu,” kata Nurjariah, warga Kota Baru, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Perempuan paruh baya itu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Banna Tani. Ia memimpin 25 ibu rumah tangga lainnya, menggarap lahan kosong sekitar 20 meter persegi.

Nurjariah berbagi cerita. Sebelum panen tiba, kelompoknya menghadapi sejumlah tantangan. Bila hujan datang kebun tergenang. Bekicot dan serangan juga rajin melumat tanaman.

Menurutnya sebelum menjadi kebun, lahan yang mereka garap tanah kosong penuh ilalang. Lantas ia dan rekan-rekannya membersihkan, membangun rumah bibit, menimbun tanah, hingga membuat bedeng.

“Buat bedeng ini kami kerjain sendiri para ibu-ibu kami hanya pakai bantuan orang untuk nimbun karena tidak sanggup,” kata perempuan kelahiran Aceh Tamiang tahun 1968 itu.

Jadilah kebun asri. Tumbuh subur kangkung, bayam, terong, cabai, timun, lengkuas, kencur, hingga jahe merah.

Kini nyaris tak ada lahan kosong di sekitar rumah warga. Rumah bibit Banna Tani menggratiskan sayuran yang ingin ditanam anggotanya. 

“Sangat berguna dan bermanfaat. Ibu-ibu jadi lebih senang karena kita nanam sendiri tidak payah kita beli, yang sebelumnya tidak suka nanam jadi suka nanam,” ungkapnya.

Tak ayal, urusan dapur turut lancar. Di Kota Baru ekonomi warga berputar.

“Kalau biasanya dalam sebulan kami 30 hari membeli sayur, kalau sekarang hanya 10-15 hari saja, sisanya kami ambil di kebun,” ungkapnya.

Di Balik Cerita Gembira

Dinas Pangan, Peternakan, Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Banda Aceh ada di balik gembiranya warga. Instansi itu sejak 2018 menyebarkan para penyuluh ke sejumlah gampong (desa). 

Anggota KWT rajin disirami ilmu bercocok tanam dari semai hingga panen.

“Para penyuluh inilah yang setiap hari mendampingi apabila ada kendala dalam pemupukan, pengolahan tanah, menanam semua ditangani oleh para pendamping yang merupakan penyuluh dari DPPKP Kota Banda Aceh,” jelas Kepala Bidang Pangan DPPKP Kota Banda Aceh, Wahyuni.

Sejak tahun 2018, DPPKP Kota Banda Aceh telah membangun 11 rumah bibit untuk KWT yang tersebar di wilayah Kota Banda Aceh melalui Program Pengembangan Pekarangan Rumah.

Pada tahun 2018 pihaknya membangun di KWT Maju Beusaree Gampong Lampulo, KWT Mawar Gampong Ceurih, KWT Bina Asri Gampong Jawa, KWT Asri Gampong Emperom dan KWT Bungong Seulanga Gampong Alue Deah Tengoh.

Disusul pada tahun 2020 pembangunan rumah bibit kembali dilanjutkan di enam gampong lainnya yaitu KWT Meutuah Tani Gampong  Peulanggahan, KWT Banna Tani Gampong Kota baru, KWT Fitrah Gampong Ie Masen Ulee Kareng, KWT Bungong Melati Gampong Jeulingke, KWT Bijeh Ban Keumang Gampong Lambhuk serta KWT Jeumpa Kuneng Gampong Peunyerat.

Ia berharap agar semua KWT tetap semangat dalam pengembangkan pekarangan rumah. 

“Selain untuk memenuhi pangan sehat untuk keluarga juga bisa membantu ekonomi keluarga karena juga bisa dijual.”

Bila begitu, layaklah anggota Banna Tani disebut srikandi, setidaknya untuk rumah sendiri.(Ah/Hz)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...