Langsung ke konten utama

Diskominfotik Diskusi Bersama LSM Terkait Rancangan Perwal Satu Data





Banda Aceh – Perwakilan Civil Society Organization (CSO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ada di Kota Banda Aceh melakukan kunjungan ke Diskominfotik Kota Banda Aceh. Kunjungan tersebut dalam rangka diskusi terkait rancangan Peraturan Walikota (perwal) tentang Satu Data Banda Aceh, Jumat (22/1/21).

LSM yang hadir meliputi Balai Syura Kota Banda Aceh, GeRAK, RPUK ( Tim Relawan Perempuan Untuk Kemanusiaan), dan Puan Adisa.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Kota Banda Aceh Fadhil S.Sos., MM menyambut baik kedatangan LSM tersebut. Ia mengatakan bahwa ini merupakan suatu bentuk kerja sama antara pemerintah dengan lembaga swadaya masyarakat.

“Saya sangat berterimakasih kepada LSM yang sudah mau membantu pemerintah menjadikan konsep perwal ini lebih istimewa lagi,” jelasnya.

Dalam diskusi tersebut, ada beberapa masukan yang diajukan oleh LSM kepada pemerintah dalam hal ini Diskominfotik Kota Banda Aceh. Beberapa dari masukan tersebut di antaranya menambahkan asas partisipasi publik dan asas keterbukaan pada bab tentang asas, menambah Bab tentang Partisipasi Publik, memuat definisi data terpilah gender pada Ketentuan Umum dan memunculkan data terpilah gender pada pasal-pasal yang relevan.

Salah satu perwakilan dari tim RPUK Azriana berharap bahwa diskusi ini sebagai bentuk kerja bersama antara pemerintah dengan masyarakat.

“Kami sebagai masyarakat sipil sangat berkepentingan terhadap Perwal Satu Data ini. Sekarang adalah saat dimana pemerintah dan LSM berjalan beriringan bukan lagi berhadapan,”ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa nantinya hasil dari diskusi ini akan segera dilaksanakan agar Perwal Satu Data ini bisa selesai dengan cepat dan sesuai dengan keinginan semua kalangan.

“ Kita sudah mengagendakan beberapa hal yang akan kita tindak lanjuti terkait pertemuan ini. Mudah-mudahan semua yang kita rencanakan bisa dilaksanakan. Kami sendiri akan segera menyelesaikan masukkan dari kami dan kami serahkan minggu depan. Tahapan selanjutnya adalah Diskominfotik mempelajari masukan tersebut dan bilamana sesuai akan memasukkan poin kesepakatan ke dalam draft yang sedang dikerjakan. Semoga dengan kerja bersama ini bisa menghasilkan rancangan perwal yang representatif karena banyak perspektif yang coba dimasukkan ke dalam proses penyusunan draft rancangan perwal tersebut,” harapnya.(Hz)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...