Langsung ke konten utama

Belajar Mencintai Profesi Guru




Oleh Tabrani Yunis


Tidak ada yang tahu seperti apa masa depan seseorang, walau sesungguhnya kita sudah menyiapkan masa depan kita dengan sebuah cita-cita. Misalnya, ketika kecil kita bercita-cita ingin menjadi guru, namun ketika besar malah berubah arah dan tidak menjadi guru. Begitu pula halnya dengan aku. Seperti dalam tulisan sebelumnya, aku sangat ingin menjadi seorang penyuluh pertanian atau ingin menjadi seorang insinyur pertanian, lalu kemudian patah di tengah jalan. Jalan yang harus ditempuh hanya dengan dua cara, yakni pertama harus bersekolah di SMA dan kemudian melanjutkan ke fakultas pertanian hingga mencapai gelar sarjana pertanian, atau dilalui dengan memasuki sekolah kejuruan pertanian, seperti SPMA kala itu. Dengan mengikuti pendidikan di lembaga pendidikan itu, maka  jalan untuk mewujudkan cita-cita untuk  menjadi penyuluh pertanian atau insinyur pertanian bisa terwujud, namun tidak dengan jalan yang aku harus tempuh. Aku yang bercita-cita ingin menjadi seorang penyuluh pertanian atau insinyur pertanian, berbelok arah ke dunia berbeda, yakni harus belajar menjadi tenaga pendidik, sebagai seorang guru dengan memilih pendidikan di jalur sekolah guru. Jalur yang ketika tÃ¥mat SMP tyda menjadi pilihan hati.



Namun, tanpa terasa, waktu berlalu. Sudah tiga tahun lamanya belajar menggali ilmu di SPG,    Aku harus belajar mencintai profesi guru. Aku harus menjadi yang terbaik. Aku harus bisa menempati rangking satu. Aku harus mampu bersaing dengan teman-teman se kelas. Hal itu akhirnya terjadi,  aka bersaing dengan seorang teman perempuan yang antik dan cerdas.  Ketika teman perempuan yang kukagumi ini, data rangking satu pada semester I, aku merasa cemburu dan berusaha belajar eras until merit rangking pertama di semester kedua dan seterusnya.  Aku benar-benar harus belajar mengejar prestasi di setiap semester selanjutnya. Rupanya, semangat ini membawaku berada pada posisi rangking satu. Semangat bersaing menjadi modal bagiku untuk melakukan pengembangan diri sebagai anak pembelajar. Aku belajar dengan sangat giat. Karena aku sadar dan sangat ingat dengan ajaran agama yang mewasiatkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, kecuali orang itu sendiri yang mengubahnya. Jalan untuk mengubah itu saya tempuh dengan belajar dan terus belajar, berjuang untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Perpustakaan sekolah yang berada di lantai satu gedung SPG itu menjadi tempat belajar kedua selain belajar tatap mula di kelas. Perpustakaan menjadi pilihan untuk dikunjungi saat jam istirahat. Aku tidak ke kantin, karena tidak ada uang untuk menyicipi penganan yang dijual di kantin. Hanya sekali-kali bila ada uang jajan. Namun, buah dari pembelajaran selama di SPG tersebut, aku tetap bisa muncul sebagai juara 3 secara umum di sekolah pendidikan guru ini. Dengan selesainya bersekolah di SPG, aku sudah memiliki ijazah untuk bisa melamar menjadi guru. Alhamdulilah pula, ketika tamat, aku dibekali dengan sejumlah uang yang pada saat itu berupa beasiswa yang jumlahnya lumayan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan, yakni perguruan tinggi.

 

Ijazah SPG yang aku terima di tahun 1982, belum mendorong keinginanku untuk terus menjadi guru. Apalagi untuk menjadi guru SD yang  kuketahui akan melemparkanku jauh ke pedesaan yang terpencil. Menjadi guru SD di daerah terpencil dalam pikiranku, pasti akan memurukkanku dalam lubuk yang mematikan semangat belajar yang telah  kusemai sejak kecil. Maka, walau apapun kondisi hidupku saat itu, menjadi guru SD masih sangat jauh dari impian. Di perasaanku, menjadi guru di sekolah dasar, walau kata banyak orang sebuah pekerjaan yang mulia, dalam kenyataannya, guru-guru yang mengajar di sekolah dasar, menanggung beban dan tanggung jawab yang sangat besar dalam mendidik anak-anak bangsa ini. Saat itu, elegi-elegi sedih yang melanda guru-guru SD di tanah air sarat dengan cerita sedih. Cerita sedih itu masih menyelimuti kehidupan guru kala itu, terutama guru SD. Bayangkan saja, begitu banyak guru SD di desa atau di kota yang terpaksa nyambi di luar sekolah. Ada yang menjadi tukang ojek, nyambi menjadi jualan es dan lain-lain.

 

Maka, berbekal beasiswa yang aku terima ketika tamat SPG yang jumlahnya sebesar Rp 135.000,- saat itu, aku berspekulasi untuk memperbaki nasib. Saat itu, aku berpendapat, kalau pun aku memang harus menjadi guru, bukan menjadi guru SD, tetapi menjadi guru bidang studi. Soalnya, kalau menjadi guru SD, aku harus mampu menjadi guru kelas, yang mengajarkan berbagai mata pelajaran di sebuah kelas di SD. Oleh sebab itu, tatkala musim seleksi mahasiswa baru di perguruan tinggi, anu mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Aku tidak memilih jenjang pendidikan strata 1 (S1), karena pada saat itu, aku sadar bahwa kalau aku melanjutkan ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), aku akan gagal, karena aku yakin akan tersendat dengan biaya. Bagaimana bisa kuliah di Perguruan Tinggi dalam waktu yang relatif lama? Kedua orang tua yang kusayangi, tidak memiliki kemampuan untuk menyekolahkanku hingga Perguruan Tinggi. Mereka tidak sanggup untuk membiayai pendidikanku. Ketika itu, malah Ibuku yang tercinta kembali meminta agar aku melamar jadi guru. Namun tekadku yang keras, mendorongku untuk melanjutkan study ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aku memilih ikut tes di program Diploma. Minimal, kalau terpaksa menjadi guru, aku akan mengajar pada jenjang pendidikan lanjutan, yakni sekolah Menengah umum tingkat Pertama (SLTP). Pilihanku  adalah program Diploma 2 tahun., jurusan bahasa Inggris. Pejalaran yang saya sukai sejak di SMP.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...