Langsung ke konten utama

Sepeda Baru Saya



Oleh Chandrika Yassini

Kelas VII SMP Negeri 1 Ulee Gle, Pidie Jaya, Aceh

 

Nama saya Chandrika Yassini. Sehari-hari dipanggil dengan sebutan Yasin. Saat ini, saya duduk di bangku SMP kelas 7 di SMP Negeri 1, Bandar Dua, Ule Gle, Pidie Jaya Aceh. Saya anak ke 1 dari 2 bersaudara. Saya adalah putri dari ayah hebat yang bernama Wiswa Maitreya. Pekerjaan Ayah saya wiraswasta yang artinya pekerjaannya tidak menetap.  Terkadang kami harus hidup dengan keadaan serba kurang,  walaupun demikian Ibu saya yang bernama Kartini mampu menahannya dengan sabar di tengah sulitnya ekonomi di masa pandemi ini.

Kondisi kehidupan yang sulit,  tak menyurutkan semangat belajar saya sejak duduk di bangku MI (Madrasah Ibtidaiyah). Alhamdulilah, saya selalu mendapat juara dan menang dalam setiap lomba yang saya ikuti. Saya sangat bersyukur, karena  di kelas 7 SMP Negeri 1 Bandar Dua saya mendapat peringkat 1, berkat bimbingan belajar yang diajarkan oleh guru, membuat saya semakin semangat belajar. Saat lomba penelitian siswa kami membuat produk herbal perisai Corona dan mendapat juara 2. Saya sangat bahagia dan semakin bersemangat.

Mungkin itulah yang membuat saya tiba-tiba mendapat rezeki yang mengejutkan. Suatu hari saya dipanggil ke ruang Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Bandar Dua oleh Hamidah S.pd M.Pd. Saya di interview tentang keluarga saya. Saya merasa gugup juga sambil bertanya dalam hati,  untuk apa saya diinterview? Ya, saya sangat penasaran. Lalu, seminggu setelah itu,  tepatnya pada hari Rabu 10 Februari 2021, dewan guru dan keluarga besar SMP Negeri 1 Bandar Dua tersenyum sumringah menerima paket sepeda Polygon yang dikirimkan dari POTRET Gallery di Banda Aceh. Katanya, sepeda itu adalah bantuan dari program 1000 sepeda dan kursi untuk anak yatim, piatu, miskin dan disabilitas di Aceh.

Pagi itu, Ibu Nana, guru matematika memanggil dan menarik tangan saya ke luar kelas. Guru- guru memberikan ucapan selamat kepada saya. Begitu saya melihat sepeda baru dan mendengar ucapan Ibu Kepala kepada saya. “Ini sepeda baru yang diberikan Pak Tabrani Yunis, pemimpin Redaksi majalah POTRET’’. Saya tersenyum dan terharu luar biasa. Saya tidak menyangka dan rasa tak percaya betapa senangnya hati saya mendapat bantuan sebuah sepeda baru. Saya yakin bahwa  rasa bahagia ini pasti juga dirasakan oleh ibu saya. Kini ibu saya tidak akan susah payah lagi mengantar saya ke sekolah dengan sepeda tuanya. Seringkali jika terlalu lama Ibu menjemput, saya harus pulang jalan kaki sendiri hingga 3 kilometer.

Alhamdulilah,  kini dengan adanya sepeda baru ini, saya bisa pergi ke sekolah sendiri. Insya Allah, saya akan menggunakan sepeda baru untuk belajar di sekolah dan  ke rumah guru matematika untuk belajar matematika. Terima kasih ya Allah. Semoga Allah membalas jasa bapak dan ibu semua. Doakanlah saya agar saya bisa sukses membahagiakan kedua orang tua saya dan menggapai cita-cita saya yaitu ingin menjadi guru. Amin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...