Langsung ke konten utama

KULINER TRADISIONAL KHAS ACEH




Oleh : Revi Selvia  


Aceh yang terkenal sebagai  Negeri Serambi Makkah, memang terkenal akan adat dan budayanya yang kaya dan unik. Hal ini juga tercermin dari kekayaan kuliner khas Aceh yang kelezatannya digemari di Nusantara.

Berbagai makanan khas Aceh ini, bahkan bisa Toppers temui di luar Aceh karena popularitasnya. Makanan khas Aceh memang beragam. Aceh merupakan salah satu wilayah yang berada di ujung barat Indonesia dan beberapa tahun silam terkena bencana Tsunami yang menghabiskan seluruh wilayahnya.

Akan tetapi bencana yang melanda tidak membuat penduduk menjadi putus asa, sehingga mereka tetap bangkit lagi dan memulai hidup baru.

Aceh terkenal dengan sebutan Serambi Mekah, selain itu Aceh juga menyimpan beragam pesona alam yang siap memanjakan mata para pengunjung.

Makanan Aceh, makanan yang terdapat di daerah yang pernah dilanda konflik dan Tsunami 26 Desember 2004 lalu. Dua peristiwa besar yang melanda Nanggroe Aceh Darusalam telah mencatat banyak sejarah. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai wakil Tuhan di bumi yang menerima amanat-Nya untuk mengelola kekayaan alam. 

Ingin tahu makanan tradisional Aceh apa saja, inilah salah satu makanan khas Aceh :


Salah satu ikon makanan khas Aceh yang paling tersohor adalah Mie Aceh. Disajikan dalam dua varian, yaitu digoreng dan juga menggunakan kuah. Kuliner tradisional Aceh ini dilengkapi dengan berbagai pilihan topping mulai dari Kepiting, Daging sapi, dan juga seafood.



Untuk pecinta kuliner berkuah, makanan tradisional asal Aceh satu ini wajib masuk daftar masakan favoritmu.  Masam Keuneung sendiri berarti Asam Pedas, dan sesuai namanya, makanan khas Aceh ini memiliki cita rasa pedas dan asam yang menyegarkan, lho.

Kuliner khas Aceh satu ini adalah pilihan tepat untuk yang gemar cita rasa daging itik. Bebeda dengan kuliner berbahan itik pada umumnya, makanan asal Aceh satu ini memiliki resep tersendiri dengan berbagai bumbu-bumbu yang membuatnya mampu memberikanmu pengalaman mengonsumsi kuliner itik yang berbeda.



Ingin menyantap kuliner khas Aceh yang menyegarkan? Rujak Aceh jawabannya. Terbuat dari buah rumbia yang banyak ditemukan di Aceh dan disirami saus rujak. Panganan khas Aceh ini juga kerap disajikan dingin dengan parutan es sehingga membuatnya makin menyegarkan!




Ungkot Kemamah adalah makanan khas Aceh yang terbuat dari ikan tuna yang sebelumnya telah direbus dan dikeringkan. Masakan khas Aceh ini kemudian diolah menggunakan santan kelapa, kentang, cabai hijau, dan berbagai bumbu rempah sehingga menghasilkan cita rasa menarik dan menggoda lidah.

Makanan asal Aceh yang populer selanjutnya adalah Martabak Aceh. Berbahan dasar roti cane sebagai kulitnya, membuat martabak ini berbeda dengan martabak pada umumnya. Dengan cita rasa gurih dan sedikit pedas, kuliner khas Aceh ini bisa menjadi camilan tepat untuk menemanimu menyeruput kopi.

 

 


Sate matang adalah masakan khas Aceh, tepatnya dari Daerah Matang. Yang membuat masakan tradisional Aceh ini berbeda dengan sate lainnya adalah bahan berupa daging sapi atau kambing yang diungkep dengan bumbu khas Aceh sebelum kemudian dibakar.

Makanan khas daerah Matang ini penyajiannya juga dilengkapi kuah soto yang gurih membuatnya makin menggoda untuk disantap.

Kaya sekali bukan kuliner tradisional khas Aceh? Berbagai jenis dan cita rasa yang bervariasi membuat bertualang mencicipi makanan khas Aceh nggak akan ada habisnya.

 

 

 

 

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...