Langsung ke konten utama

Memimpin Bangsa dan Pendidikan Yang Tertinggal

 



Oleh Ahmad Rizali

Berdomisili di Depok

 

Ketika USA panik melihat Rusia meluncurkan satelit pertama "Sputnik" ke orbit yang dipikirkan langsung adalah pendidikan tertinggal. Ketika sekali lagi mereka mulai panik melihat pertumbuhan Cina, yang dipikirkan juga pendidikan tertinggal. Ketika Cina juga merasa tak mampu lagi mendorong pertumbuhan ekonomi, karena perlu manusia yang lebih berdaya, yang dipikirkan juga pendidikan yang tertinggal. Pasi Sahlberg juga menjadi saksi bahwa sistem pendidikan yang solid sejak jenjang dasar hingga pendidikan tinggi akan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

 

Bukti bahwa negara yang serius membangun bangsanya fokus ke pendidikan, khususnya pendidikan dasar adalah data dari PIAAC (Program for Intl. Adult Assessment Competence) yang pada tahun 2016 mengukur kompetensi membaca, matematika dan sains pekerja dewasa usia 16 sampai dengan 64 tahun di negeri OECD. Ini PISAnya orang dewasa. Terlihat hasil PIAAC Israel dan Singapura di bawah rerata, sementara PISA mereka di atas rerata. Keduanya serius membereskan Dikdasnya dengan kemajuan di PISA.

 

Dengan mematok kemenangan 100 tahun Maraton, Tiongkok juga menyiapkan warganya menguasai Hi tech di sains, rekayasa, IT, Persenjataan, Angkasa Luar dan lain sebagainya. Dikirimkan ratusan ribu mahasiswa, bahkan pelajar untuk sekolah di USA, Kanada, Eropa dan Australia termasuk Jepang, sejak awal tahun 1960an.  Seingatku Soekarno, Soeharto dan Habibie juga melakukan hal yang sama, namun tak padu dengan rencana pembangunan berlanjut dengan geger G30S dan reformasi. 

 

Semua negara yang konsisten kemajuannya, memilih studi yang cocok dengan rencana pembangunan dalam negeri mereka dan ketika semuanya lulus, sejak jenjang SD/MI yang diberi fondasi kuat hingga Perguruan Tinggi dengan ketrampilan yang relevan, maka klop dan pas mereka berkiprah. Apakah Indonesia terlalu fokus mendidik dalam bidang Ilmu sosial dan agama? Walahualam.

 

Ketika Soeharto menerima alih komando dari Soekarno dalam kondisi Indonesia compang camping, namun semangat kebangsaan pemimpinnya sangat solid, meski sering bertikai dalam ideologi. Singkat kata, dengan tangan besi dan seperti itu pula dilalukan oleh pemimpin Tiongkok, Korea jaman Chun, Lee yang ditakuti dan Jepang restorasi Meiji, autocratic benevolence style, Soeharto mengikuti cara World Bank dan Internation Monetary Fund (IMF) dan pemberi utang lain memperbaiki akses pendidikan dengan meluncurkan "Inpres SD". 

 

Mungkin ratusan ribu SD Inpres dibangun, guru dicomot dari sana sini. Semua gegap gempita mendorong akses Pendidikan Dasar ini. Setiap akhir Repelita, Angka Partisipasi melonjak dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merangkak naik, karena daya beli (Purchasing Parity) dan indikator Kesehatan Masyarakat juga membaik. PDB naik terus. Karena uang di saku terus bertambah, jelas malingpun bertambah. 

 

Kondisi seperti itu persis terjadi di USA saat usia 50-60 tahun kemerdekaan dan terjadi di Tiongkok pula saat ini. Wakil rakyat bisa dibeli, pemilik modal dilindungi dan lain sebagainya. Namun dalam kasus seperti ini, semua negara tidak menelantarkan pendidikan dan selalu menggali "basis" ke akar budaya setempat. 

 

Finlandia itu sempat dijajah Rusia komunis dan di Parlemen Partai Komunisnya sangat kuat, namun ketika merumuskan kebijakan perbaikan pendidikan, meski debat keras mereka solid sepanjang masa. Ketua Mao dianggap menjerumuskan Tiongkok dengan revolusi kebudayaan dan dampaknya, jutaan rakyat tewas. Toh Mao tidak disalah salahkan dalam isi pendidikan di Tiongkok, bahkan awal Revolusi Kebudayaan 1949 dipakai acuan awal "100 Tahun Maraton" untuk mengalahkan USA. 

 

Tahun 1998 Soeharto berhenti dan cobalah melihat statistik, Tahun 2000 Indonesia ikut dalam uji komparatif PISA, skor membaca 371, sesudah 18 tahun, di 2018 skor kita kembali ke 371. Jelas sangat banyak upaya perbaikan pendidikan kita, namun aku hanya menguji hasilnya, mengapa rerata mutu pendidikan kita justru memburuk ketika akses kepada pendidikan dan PDB kita semakin baik ? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...