Langsung ke konten utama

Ramadan Hari Pertama, ACT Aceh Bagikan 200 Paket Pangan





Banda Aceh –potretonline.com, 14/04/21/ Ramadan hari pertama, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh membagikan 200 paket pangan berupa sembako yang dibagikan ke masyarakat di Banda Aceh. Pembagian paket pangan ini langsung dilakukan selama 1 hari, Selasa, 13 April 2021 atau 1 Ramadan 1442H.

Titik pembagian paket pangan ini merata ke wilayah-wilayah di Banda Aceh, menyasar ke keluarga prasejahtera, sebagian distribusi dilakukan di halaman masjid setempat. Masyarakat yang hadir sangat senang dengan paket pangan yang diberikan pada saat awal Ramadan ini.

Pembagian paket pangan ini merupakan bentuk Gerakan Sedekah Pangan Ramadan dan mengajak masyarakat Aceh untuk berlomba-lomba bersedekah dalam rangka meningkatkan iman dan amalan di bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah. 

Memulai gerakan ini, ACT Aceh, menyalurkan 200 paket pangan atas dukungan dari Be Aid, lembaga Turki yang berpusat di Jerman. Paket pangan ini berupa beras 10 kg, kurma, minyak goreng, gula, garam, tepung terigu, dan mie telor yang dikemas dalam kotak kardus. 

Zulfurqan, Kepala Cabang ACT Aceh mengatakan Gerakan sedekah pangan Ramadan ini juga sebagai bentuk kekhawatiran terhadap kenaikan harga sejumlah bahan pokok karena kondisi ekonomi masyarakat yang saat ini belum sepenuhnya pulih karena Covid-19.

“Karena itu, gerakan ini diharapkan mampu menyelesaikan persoalan ekonomi yang saat ini dialami masyarakat kurang mampu dapat mencukupi kebutuhan pangannya,” tambahnya. 

Gerakan juga dalam rangka program Ramadan 2.0 Aksi Tanpa Batas, karena Ramadan tahun ini merupakan menjadi Ramadan kedua di tengah kondisi pandemi, di mana masyarakat di sekitar kita benar-benar sedang dalam kondisi berat. Diharapkan Aksi Tanpa Batas ini menjadi sebuah doa dan semangat untuk menciptakan program tanpa batas guna dapat menyelesaikan masalah-masalah di sekitar kita. Khususnya di Aceh. []


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...