Langsung ke konten utama

1549 Warga Aceh Nikmati Paket Iftar Dari Muslim Eropa





Banda Aceh – Minggu (9/5), ribuan masyarakat Aceh nikmati paket iftar dari muslim Eropa yang disalurkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) - Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh. Paket berbuka puasa tersebut berasal dari komunitas muslim di Eropa.

Paket iftar yang dilaksanakan sekalian dengan buka puasa bersama ini dilaksanakan di seluruh kabupaten kota se-Aceh.

Lokasi distribusi paket iftar ini adalah di dayah-dayah dan juga masjid yang ada di daerah. Salah satu tempat distribusi paket iftar ACT Aceh adalah di daerah perbatasan, yaitu Aceh Selatan, Subulussalam, dan Aceh Singkil dengan mengundang anak yatim duafa.

Salah satu penerima manfaat yang biasa dipanggil “Mbah”, beliau telah berusia 70 tahun lebih.

Mbah bersama istrinya telah tinggal selama 10 tahun lebih di Desa Jontor, Subulussalam. Daerah tempat beliau tinggal bersama istri merupakan daerah perkebunan walau masih dalam komplek pesantren. Meskipun beliau memiliki dokumen resmi tinggal di desa tersebut, namun beliau tidak pernah menerima bantuan apa pun. Beliau datang dengan berjalan kaki, jarak tempuh sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia berharap jika bantuan seperti ini dapat kembali dilakukan karena sangat membantu kondisi mereka pada saat ini.

Munandar, Staf Program ACT Aceh menjelaskan bahwa paket iftar ini adalah dari kemurahan hati komunitas-komunitas muslim di Eropa, yaitu FORKOM (Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia di Jerman), Sadaqah.io, dan IMAAM Center. Jumlah yang disalurkan adalah sejumlah 1549 paket iftar, dan tersebar ke seluruh Aceh dengan berkolaborasi dengan MRI Aceh. Semoga menjadi berkah.


“Alhamdulillah sekali ada kemurahan hati yang begitu besar dari saudara-saudara kita di Eropa. Semoga dengan kebaikan ini, akan selalu membawa keberkahan bagi mereka, dan semoga kebaikan ini terus berjalan, tak hanya berhenti disini saja,” sebut Abi Hasan ,Pimpinan Dayah Bustanul Darussalam Al-Waliyah di Aceh Besar, salah satu lokasi buka bersama. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...