Langsung ke konten utama

Mengajak Mahasiswa Merangkai Kembali Mimpi Masa Depan




Oleh Tabrani Yunis



Orang-orang dahulu, pasti sering mendengar peribahasa, membangkitkan batang terendam. Peribahasa itu, kelihatannya cocok dengan kondisi pembelajaran kaum atau Generasi milenial yang sedang berada di kancah pendidikan, baik di level sekolah dasar, maupun level menengah dan perguruan tinggi di negeri ini. Bila para membaca ada membaca tiga tulisan penulis sebelumnya yang pertama berjudul “ Dosen Generasi Baby Boomers dan Generasi milenial. Kedua, Mencari jalan keluar dari Sesat di Belantara Kampus dan ke tiga “ Membaca Judul Saja”, maka tulisan ini menjadi lanjutan dari persoalan gaya belajar kaum milenial yang menggalaukan sang dosen generasi baby boomers seperti telah dipaparkan dalam beberapa tulisan tersebut di atas.



Maka, Sang dosen pun sangat teringat bahwa proses kuliah ke tiga pada Rabu, 21 Maret 2021 harusnya berjalan luring, dengan tatap muka, namun gagal. Kegagalan yang disebabkan oleh faktor hujan lebat. Ya sore itu hujan sangat lebat mengguyur kota Banda Aceh. Sang dosen Baby boomer sudah melangkah dan masuk ke mobil yang diparkirnya di depan Potret Gallery, untuk menuju kampus. Namun, terhenti ketika seorang mahasiswa menelpon dan bertanya, Pak, apakah kita masuk hari ini? Sontak Pak Dosen menjawab, ya kita masuk. Saya segera datang. Tapi Pak, hujan sangat lebat. Kita kuliah Online saja Pak.



Dosen generasi Baby boomer ini cepat tanggap. Walau dosen baby boomer yang selama ini dianggap masih gatek, saran mahasiswa untuk belajar daring, dijawab kilat. Boleh saja. Apakah kalian siap semua kita daring. Ternyata hampir semua menyatakan siap. Dengan penuh percaya diri, sang dosen bertanya, apakah menggunakan zoom atau Google meet? Para mahasiswa meminta agar sang dosen menggunakan google meet. Sayangnya aplikasi Google meet sudah terhapus, dosen baby boomer pun harus down aplikasi google meet. Namun, agar kuliah daring bisa berjalan, hanya dalam waktu beberapa menit sudah bisa dijalankan setelah mengirimkan undangan untuk online. Begitu canggihnya teknologi informasi dan komunikasi di era digital ini. Betapa tidak, hanya dengan menggunakan satu aplikasi yang bisa didownload di Google seperti Google meet atau Zoom, proses pembelajaran bisa dilaksanakan secara daring. Semua peserta didik bisa ikut dan terlibat. Begitulah idealnya. Jadi di era digital ini belajar itu semakin mudah, murah, dan cepat. Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah semua serius belajar?

Mengapa pertanyaan ini muncul? Pasti semua ada pengalaman ikut kuliah atau belajar lewat online di masa pandemi Covid 19 ini. Salah satu yang bisa menceritakan kita tentang realitas pembelajaran online adalah tersedianya video agar bisa melihat wajah peserta kuliah. Namun sayangnya video tersebut juga bisa dinonaktifkan atau ditutup, dalam kondisi tetap konek, tetapi mahasiswa bisa saja sedang melakukan hal yang lain. Sehingga proses kuliah pun tidak fokus.



Ya, tentu banyak sekali masalah yang harus kita bahas tetkait kuliah atau belajar dengan model daring ini. Banyak sekali masalah yang kita tuai, namun kondisi pandemi telah memaksa kita agar setiap peserta didik dan para guru atau dosen yang mengelola proses belajar mengajar lewat daring. Suka atau tidak suka, belajar dengan menggunakan jaringan Internet adalah sebuah keniscayaan. Walau pun dosen generasi baby boomers, ia harus segera beradaptasi dengan proses digitalisasi yang masih terus berlangsung ini. Sayangnya dalam tulisan ini, bukan ingin menulis soal kekuatan dan kelemahan sistem belajar online atau daring. Itu akan ada kesempatan lain untuk diuraikan.



Nah, dalam tulisan ini, seperti peribahasa di awal tulisan ini, ada hal yang dirasakan sangat mengganjal dalam upaya membangun kesadaran mahasiswa generasi milenial untuk secara serius dan sungguh-sungguh belajar dan membangun kemampuan literasi yang mumpuni. Apa yang terjadi kala berjalannya proses belajar online kala itu ditemukan ada banyak hal. Misalnya ketika proses belajar daring berlangsung, tidak semua mahasiswa bisa aktif terlibat dalam proses belajar atau kuliah. Artinya semangat belajar juga masih rendah, sekadar mengisi daftar hadir kuliah. Dikatakan demikian karena para mahasiswa bisa menutup video dan wajah tak terlihat. Hanya satu atau dua orang yang mau memberikan tanggapan terhadap isi atau materi kuliah. Maka, seperti biasa, sang dosen berusaha memotivasi para mahasiswa yang hadir. Lalu kemudian memberikan sedikit tugas untuk mengembangkan materi yang sudah diberikan.

 

Memberikan motivasi dan memberikan sedikit tugas kepada para mahasiswa generasi milenial dirasakan sangat penting karena sang dosen baby boomer telah mengidentifikasi, dan menganalisis masalah yang ada pada mahasiswa yang sedang membangun kehidupan di bangku kuliah di Universitas. Dua hal yang sangat mendasar adalah masalah minat membaca yang terus melorot dan mengakibatkan daya membaca para mahasiwa sangat rendah yang bermuara kepada rendahnya kualitas diri para mahasiswa. Banyak jumlah mahasiswa, tetapi tidfak berkualitas, tidak mampu membangun diri secara optijmal. Kedua, cekanya, tidak sedikit dari mahasiswa di Perguruan Tinggi yang salah memilih jurusan, karena tidak mendapat bimbingan karir ketika masih berada di bangku sekiolah SMA atau sederajat. Mereka tidak mendapat bimbingan dari orang tua dan malah sebaliknya karena mengikuti selera orang tua ( pilihan orang tua). Hal ini menjadi masalah kedua bagi kebanyak mahasiswa   yang sesat di belantara kampus dan belajar tanpa arah.  

 

Kondisi inilah yang semakin mendorong dosen generasi baby boomer berusaha memotivasi dan sekaligus membimbing para mahasiswa agar keluar dari arena kesesatn di kampus. Maka, setiap usai kuliah tatap muka, maupun daring,sang dosen membangun komunikasi lewat WhatsApp. Jadi wajar saja,   usai kuliah lewat Online berakhir, kombinasi dengan para mahasiswa dilakukan lewat WhatsApp. Sang dosen menjadi bahagian dari grup mahasiswa di kelas mata kuliah yang diembannya. Lewat jalur ini, sang dosen mencoba memperkaya wawasan mahasiswa dengan sejumlah bacaan. Sang dosen mengirimkan secara regular bacaan-bacaan untuk dibaca oleh para mahasiswa yang belajar bersamanya. Sayangnya, setelah seki8an banyak bacaan yang dikirim, sangat sedikit dai mahasiswa yang membacanya. Postingan tulisan tersebut berlalu begitu saja. Sangat rendah respon mahasiswanya terhadap tulisan-tulisan tersebut. Sehingga, apa yang dikatakan pepatah pada awal tulisan ini, membuktikan bahwa semakin sulit bagi para pendidik untuk memotivasi, mengajak para mahasiswa untuk rajin membaca, membangun kemampuann literasi yang mumpuni. Padahal, ketiika mereka sudah sesat di belantara kampus, harusnya berusaha untuk melakukan refleksi dan membangun kembali serta meluruskan kembali kiblat pendidikan yang ditempuh. Namun, terasa semakin sulit, karena perbedaan pola pikir dan cara belajar, serta tujuan belajar ( kuliah).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...