Langsung ke konten utama

TEACHING BASED ON FACULTY



 

Oleh Khairuddin 

Relaksasi kurikulum yang diluncurkan Kemendikbud dalam mengatasi pembelajaran di masa pendemi beberapa waktu silam ternyata tidak memberi dampak kualitas pendidikan Indonesia. Justeru yang terjadi sebaliknya, relaksasi yang hanya mengurangi beberapa kompetensi dasar pada suatu bidang studi tidak mampu diejawantahkan dengan baik di sekolah. Bukannya rileks malah sangat memaksa.


Meski sejatinya merdeka dilaksanakan oleh guru di satuan pendidikan, namun yang terjadi tidaklah demikian. Sangat kondisional. Ketika akan langsung pada kompetensi esensi suatu pokok bahasan, kemampuan siswa rupanya harus dituntun sedari dasar, akibatnya guru kembali mengulang pada kompetensi yang mampu mengantarkan siswa menuju esensi pokok bahasan. Tidak jarang juga guru tidak memahami esensi pokok bahasan, sehingga cukup lama nyaman pada kompetensi pengantar. Akibatnya jelang evaluasi kenaikan kelas seperti saat ini, banyak guru mengeluh pokok bahasannya belum habis, sementara waktu mengajar pun sangat singkat mengikuti kebijakan saat pandemi.


Namun di luar relaksasi kurikulum, saya memandang kurikulum kita, terutama di tingkat SMA sangatlah menyesakkan otak, dada dan kemerdekaan. Jauh sebelum pandemi hingga puncaknya di revisi kurikulum K13, muatan dan tuntutan kurikulum semakin agak di luar nalar. Siswa tidak diciptakan untuk fokus untuk terarah pada minat dan bakatnya, namun malah semakin dicecar oleh banyak bidang studi yang semua guru menganggap bidang studinya sama penting, peserta didik pun dituntut harus sama pintar seperti gurunya.


Kurikulum K13 versi revisi tahun 2017 menuntut siswa setidaknya belajar minimal 14 bidang studi dalam satu minggu, beberapa bidang studi semakin dibuat seolah sangat penting. Matematika misalnya, setelah ada Matematika Umum ada pula pemantapan Matematika di jurusan IPA disebut Matematika Peminatan. Sejarah juga demikian, tidak cukup sejarah umum, di jurusan IPS dijejali pula Sejarah Peminatan. Jurusan IPA harus mengambil salah satu bidang studi di jurusan IPS dan sebaliknya, disebut dengan lintas minat. Semua guru menganggap bidang studinya sangat penting diajarkan, sayangnya persepsi anak-anak tidak sama dengan kita, gurunya.


Saya ingin mengulang kembali gagasan kami tentang muatan kurikulum terutama di SMA. Jika SMK mengarahkan peserta didiknya untuk memiliki kecakapan sehingga bisa link and match pada dunia kerja dan dunia industri dengan kurikulum mereka yang fleksibel dimodifikasi menjadi teaching based on factory, kenapa SMA tidak mengarahkan peserta didiknya pada teaching based on faculty. Arah pendidikan SMA yang tanggung sudah seharusnya mengarahkan siswa pada pengetahuan yang mampu mengarahkan mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena itu, pembelajaran atau bidang studi yang diajarkan di SMA tidak perlu sampai 14, banyak sekali. Dalam satu semester cukup 5 atau 6 bidang studi saja yang diajarkan sampai dalam dan mengarah pada critical thinking atau higher order thinking skills. Jika suatu bidang studi sudah diajarkan pada semester lalu, tidak perlu diajarkan pada semester berikut.


Kita lihat misalnya, anak-anak belajar Sejarah, konten materinya dari SD di bidang studi IPS tentang perjuangan kepahlawanan, pemberontakan beberapa golongan, termasuk PKI dan DI-TII, di SMA materi itu lagi yang harus dihafal siswa. Prakarya dan Kewirausahaan, hampir hanya menjadi bumper bagi guru jurusan yang kekurangan jam minimal mengajar. Seni Budaya yang relatif mengulang kaji. Bahasa Inggris tetap dengan rumus tensesnya yang padahal sedari SMP sudah dikenalkan dan diterapkan dalam pembelajaran. Pendidikan Agama Islam yang di SMA masih bicara fiqh terapan, hukum halal haram dengan dalil yang tidak dikaji hanya dihafal. Termasuk Matematika dan IPA yang tidak ada ukuran mana yang penting untuk ditingkatkan di SMA, hampir semua drilling tanpa thinking. Ironisnya ketika kuliah, itu pula lagi yang kita jumpai, pengulangan materi yang sama sebagai materi dasar kuliah.


Merdeka Belajar yang digadang-gadangkan Kemendikbud harusnya menjadi kunci penting bagi sekolah merdeka mengelola kurikulum, namun sayangnya regulasi dan sistem digitalisasi pengambil kebijakan yang bernama Dapodik masih menjadi tembok berlin yang perlu diruntuhkan agar merdeka. Dalih apapun disampaikan oleh guru tentang pentingnya pembelajarannya, atau asosiasi guru tentang suatu bidang studi harus diajarkan di sekolah, bagi saya hanya pengelabuan belaka. Jika kita mau jujur, sesungguhnya guru hanya takut kekurangan 24 jam minimal mengajar, bukan hanya urusan tunjangan profesinya saja yang hilang namun kewajiban pemenuhan tersebut harus mereka dapatkan di sekolah lain. Bukan masalah gampang masuk ke sekolah lain "mengemis" agar diberikan jam mengajar, meski oleh guru negeri sekalipun di sekolah negara. Inilah kolonialisme jam mengajar.


Pemerintah terutama Kemendikbud, harus berani berdiri di pihak peserta didik, sebagai aset bangsa yang perlu dipelihara bukan diintimidasi dengan bidang studi yang menjejali mereka. Lihatlah sekolah di luar negeri yang maju, sekolah adalah sumber kebahagiaan, belajar adalah hiburan edukatif. Matematika tapi outputnya robot. Sains outputnya terapan berbentuk produk. Sosial bentuknya karakter dan budi pekerti. Tidak banyak bidang studi dan dalam satu bidang studi tidak banyak pula tuntutan kompetensi dasar yang harus dilahap peserta didik.


Di Indonesia, anak-anak lebih senang jika ada pengumuman gotong royong atau ada berita guru berhalangan masuk daripada mereka harus duduk secara klasikal, bergantian 4 sampai 5 bidang studi berseliweran di otak mereka setiap hari. Baru saja guru Seni Budaya yang garing keluar, kini guru Matematika tak ramah yang masuk, sebentar siang guru Ekonomi yang sering ngomel membuat ulangan harian, jam terakhir guru Fisika minta tagihan tugas kemarin. Sangat wajar bukan, sekolah hanya pelarian pagi dari rumah tapi menjadi tirani menyeramkan di kala bel pergantian jam, hingga merdeka saat bel pulang berbunyi.


Mari membenahi pendidikan Indonesia terutama di tingkat SMA, sekolah adalah gudangnya pendidikan berbentuk bidang studi yang sarat pengetahuan penting. Biarkan siswa memilih pengetahuan mana yang bisa membawa mereka mencapai cita-cita yang nanti ditajamkan di perguruan tinggi. Tidak perlu mengambil semua bidang studi, cukup yang mereka perlukan untuk menopang masa depan mereka saja. Bukan hanya muatan bidang studi yang berperan, motivasi dari Wali Kelas, Guru Bimbingan dan Konseling berperan besar memberi gambaran bagi peserta didik yang butuh bimbingan.

Sekolah adalah ruang kebahagiaan, memerdekakan pikiran berekspresi dan mengambil keputusan.


Aceh Utara, 22 Mei 2021


*Khairuddin*

Ketua Harian

Pengurus Pusat Jaringan Sekolah Digital Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...