Langsung ke konten utama

APA UNTUNGNYA JADI KONSELOR?

 



Oleh Ahdaniya 

Mahasiswa Prodi   Bimbingan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh

 

Memilih tempat untuk melanjutkan pendidikan selepas dari bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) tentu menjadi hal yang cukup membingungkan dan membuat dilema. Terlebih jika anda bertetangga dengan orang-orang julid yang siap menjatuhkan mental anda, apalagi jika anda sendiri tidak mengerti kemana selanjutnya harus melangkah setelah melepas seragam putih abu-abu.

Berdasarkan data yang telah dipublish atau dirilis oleh kementrian riset teknologi dan pendidikan tinggi (KEMENRISTEKDIKTI) melalui laman pangkalan data pendidikan tinggi, bahwasanya pada tahun 2017/2018 jumlah perguruan tinggi di Indonesia, baik itu Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) adalah sebagai berikut :

 

1. Perguruan Tinggi di Indonesia Tahun 2018

a. Perguruan Tinggi Negri (PTN) sebanyak 122

b. Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebanyak 3.128

 

2. Perguruan Tinggi Agama di Bawah Naungan Kementrian Agama Tahun 2018

a. Perguruan Tinggi Agama Negeri (PTAN) sebanyak 97

b. Perguruan Tinggi Agama Swasta (PTAS) sebanyak 1.058

 

3. Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK)

a. Perguruan Tinggi Kedinasan Negeri sebanyak 181

b. Perguruan Tinggi Kedinasan Swasta sebanyak 0

 

4. Jumlah Total Perguruan Tinggi di Indonesia


Berdasarkan data di atas, maka jumlah perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2018 adalah sebanyak 4.586, yang merupakan akumulasi dari total jumlah 400 Perguruan Tinggi Negeri dan 4.186 total jumlah Perguruan Tinggi Swasta.

Dari sekian banyaknya perguruan tinggi yang tersedia di Indonesia, saya akhirnya memilih untuk masuk di jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Banyak yang belum mengenal apa itu jurusan Bimbingan Konseling, apa saja ruang lingkupnya, bagaimana prospek kerja kedepannya? Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali menghampiri saya. Melalui tulisan ini saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Bimbingan Konseling.

Menurut Bimo Walgito (2004: 4-5), Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Erman Amti (1994 : 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang diri sendiri. Sedangkan konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan antara dua orang atau lebih (dalam hal ini konselor merupakan orang yang ahli dalam mengatasi masalah melalui kemampuan-kemampuan khusus yang dimiliki, seperti Guru BK) untuk membantu konseli (peserta didik) memahami diri sendiri, keadaanya sekarang dan melihat keadaan masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya demi kesejahteraan pribadi konseli maupun khalayak ramai. Lebih lanjut pula konseli dapat belajar bagaimana caranya memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).


Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa Bimbingan Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor (Guru BK) kepada konseli (Peserta didik). Tujuannya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi konseli serta dapat manfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok peserta didik tersebut dapat memahami dirinya sendiri secara lebih optimal dan diharapkan mampu secara mandiri untuk dapat merencanakan masa depannya.

Lalu, timbul pula pertanyaan apa untungnya menjadi seorang konselor? 


Nah, jadi selain nantinya kita bekerja sebagai Guru Bimbingan Konseling (Guru BK) kita bekerja sekaligus membantu para peserta didik meraih impian dan masa depannya. Kita dapat memberikan mereka informasi mengenai dunia perkuliahan, kita juga mengayomi mereka dengan memberikan motivasi-motivasi segar, kenapa kita harus memilih untuk belajar atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, apa yang salah jika memilih untuk langsung menikah di usia muda (Tamat SMA langsung Menikah).


Dengan memberikan para peserta didik pemahaman-pemahaman mengenai kehidupan selanjutnya setelah lepas dari seragam putih abu-abu. Kita (konselor) sudah membantu mereka menentukan pilihan hidup kedepannya.

Saya pribadi sebelum mengenal bimbingan konseling, saya sudah merasa saat ada orang-orang yang bertanya tentang pendapat kepada saya, atau mau mencurahkan permasalahannya kepada saya. Di situ saya sudah merasa seperti wahh, ternyata saya dipercayai oleh teman-teman saya, oleh orang-orang yang mau menceritakan permasalahannya kepada saya. Saya merasa seperti menjadi orang yang berguna karena saya dapat menjadi pendengar yang baik dan membuat orang yang bercerita merasa nyaman, sehingga unek-uneknya dapat diekspresikan atau dapat dikeluarkannya semua dan ia merasa sedikit lega. Di saat seperti itu saya benar-benar merasa menemukan jati diri saya, saya senang melihat orang lain merasa senang, merasa tidak lagi terbebani. Saya merasa lega saat masalah teman-teman saya dapat terselesaikan walaupun pada saat itu saya hanya sekadar mendengarkan dan sedikit memberi pendapat tidak seperti halnya para ahli di bidang konseling yang memberikan teknik-teknik tertentu untuk mengatasi masalah-masalah tertentu pula.


Dan setelah saya duduk di bangku perkuliahan, kemudian mendalami ilmu bimbingan konseling. Serta kehadiran teknologi yang berkembang semakin pesat juga mendapat respon baik bagi perkembangan bimbingan konseling, di mana informasi, komunikasi dan teknologi dimasukkan ke dalam penerapan teknik-teknik bimbingan konseling. Akhirnya semakin mempermudah dan memperluas jangkauan bimbingan konseling. Sehingga pada saat situasi yang tidak memungkinkan untuk bertatap muka, seperti misalnya hujan, ataupun adanya virus covid seperti saat ini yang tengah kita hadapi dan alasan lain yang tidak memungkinkan antara konselor dan konseli berjumpa, akhirnya terselesaikan dengan kehadiran teknologi komunikasi. Di samping itu pula, perlu kemampuan konselor di bidang teknologi komunikasi yang seharusnya lebih diperdalam lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...