Langsung ke konten utama

Begini Alur Mendapatkan Fasilitas Tempat Isolasi Mandiri Kota Banda Aceh

 


Banda Aceh – Potretonline.com,14/07/21. Dalam rangka mengantisipasi melonjaknya kasus Covid-19 di Kota Banda Aceh, Pemko Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan telah menyiapkan tempat isolasi mandiri terpusat untuk warga yang positif Covid-19 dengan gejala ringan atau Orang Tanpa Gejala (OTG).

Tempat isolasi mandiri Kota Banda Aceh yang terpusat di Hotel Hijrah Inn yang beralamat di Jl. Sultan Malikul Saleh No.7E, Lamlagang, Banda Raya ini memiliki berbagai fasilitas seperti makan, snack, obat-obatan, AC, WIFI, dan dokter serta perawat yang yang akan berjaga selama 24 jam.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Lukman, SKM., M.Kes mengatakan Pemko Banda Aceh menyediakan sebanyak 26 kamar dan 56 tempat tidur dengan tambahan 10 ekstra bed bagi warga Kota Banda Aceh yang positif Covid-19 dengan OTG, Selasa (13/7/21).

Lanjutnya, untuk mengajukan diri guna mengikuti program isolasi mandiri tersebut, calon pasien dapat mendaftarkan langsung ke Hotel Hijrahh Inn, atau melalui rumah sakit/puskesmas. Pendaftaran juga dapat dilakukan via telepon ke nomor call center tempat isolasi mandiri Kota Banda Aceh (085361207119).

Adapun syarat administrasi pada program isolasi mandiri Kota Banda Aceh diantaranya, warga Kota Banda Aceh yang dibuktikan dengan fotocopy KTP/surat domisili menetap di Kota Banda Aceh, memiliki hasil lab PCR positif Covid-19, serta bersedia menjalani SOP isoman sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Koordinator tempat isolasi mandiri Kota Banda Aceh, drg. Supriady, R., M.Kes mengungkapkan jumlah pasien positif Covid-19 tanpa gejala atau OTG di tempat Isolasi Mandiri Hijrah Inn Kota Banda Aceh mencapai 11 pasien.

“Sampai dengan Senin (13/7) ada 11 pasien isoman, masih ada 45 tempat tidur lagi yang kita sediakan," ungkapnya.

drg. Supriady juga mengungkapkan tempat isolasi mandiri diperuntukkan khusus untuk warga Kota Banda Aceh atau mereka yang berdomisili di Banda Aceh.(TM/Hz)

WhatsApp Image 2021-07-13 at 16.51.05.jpeg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...