Langsung ke konten utama

Terdampak Pandemi dan Banjir,ACT Aceh – AWC Salurkan 10 Ton Beras



 

Banda Aceh – Potretonline.com, 14/07/21. Presiden Direktur Aceh Wakaf Corporation (AWC) Husaini Ismail, Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) AcehZulfurqan, dan Wakil Bupati Kabupaten Aceh Besar Tgk. H. Husaini A. Wahab melepaskan 10 ton beras secara simbolis dalam rangkaprogram Operasi Pangan Gratis (OPG) di halaman Kantor Bupati Aceh Besar, Senin (12/7/2021).

Pendistribusian 10 ton beras ini merupakan gerakan perdana dari Aceh Wakaf Corporation dalam program Operasi Pangan Gratis.

Terdapat 10 titik penyebaran beras wakaf menyasar pada dayah-dayah yang berada di Aceh Besar, dimana dayah yang menjadi titik distribusi merupakan dayah yang santri nya berasal dari keluarga yatim / piatu prasejantera. Distribusi juga masuk ke posko pengungsian penyintas banjir di Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. 

“Beras wakaf yang kita salurkan adalah sejumlah 10 ton untuk seluruh Aceh. Titik distribusinya ke dayah-dayah dan juga tempat pengungsian bencana banjir di Aceh Besar. Ini adalah salah satu bentuk kepedulian Aceh Wakaf Corporation dan juga ACT terhadap masyarakat di tengah sulitnya pandemi saat ini sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh ribuan santri,” ujar Husaini Presiden Direktur Aceh Wakaf Corporation.

Program Operasi Pangan Gratis ini adalah bentuk kepedulian ACT terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan di masa pandemi, dimana program ini siap mendukung kebutuhan pangan masyarakat Aceh di tengah sulitnya keadaan saat ini.

Dayah Syamsul Fata, Gampong Bakoy, Ingin Jaya, Aceh Besar merupakan salah satu tempat pendistribusian beras dimana senyum dan wajah ceria anak-anak penghuni dayah merekah kala truk ACT masuk ke pekarangan dayah. Mereka langsung berbaris berjejer saling bekerja sama sambil tertawa bahu-membahu memindahkan beras dari truk ke dayah. Seakan tak ada rasa lelah, beras-beras itu dengan rapih mereka letakkan di dalam dayah. 

Beras wakaf ini juga diberikan kepada para penyintas banjir di Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Sejumlah setengah ton beras tersebut langsung diserahkan kepada perangkat gampong di Kantor Keuchik Gampong Garot, Kecamatan Darul Imarah,Aceh Besar agar dapat segera di distribusikan kepada masyarakat yang rumahnya terdampak bencana banjir.

Diketahui sebelumnya, selama 3 hari sejak Jumat (9/7/2021) wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar dilewati hujan dan angin kencang yang menyebabkan sebagian wilayah mengalami banjir. Banyak anak-anak yang terkena bencana ini dan berada di posko pada saat air sedang tinggi.

ACT Aceh juga menurunkan relawan dan juga tim Disaster Emergency Response (DER) pada malam hari ke lokasi tersebut untuk membantu korban bencana banjir untuk dapat mengungsi ke posko bencana banjir setempat.

Zulfurqan, Kepala Cabang ACT Aceh mengatakan program ini merupakan bentuk kolaborasi kemanusiaan bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) AcehBesar.”

“Beras yang akan didistribusikan kami simpan di Wakaf Distribution Center (WDC) ACT Aceh untuk dapat kami salurkan di kemudian hari. Pada hari ini beras wakaf sejumlah 5 ton telah kami distribusikan ke 4.629 penerima manfaat di wilayah Aceh Besar,” sebut Munandar, Staf Program ACT Aceh.

Dalam seremonial pelepasan Operasi Pangan Gratis ini juga hadir Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Kab.Aceh Besar, dan kepala SKPD se-Aceh Besar. []


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...