Langsung ke konten utama

BPBD Banda Aceh Segera Aktifkan WRS Deteksi Gempa

W


Banda Aceh – Potretonline.com, 04/08/21. Dalam hal memudahkan memantau kejadian bencana alam berupa gempa bumi dan tsunami, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh telah memasang alat monitor gempa bumi dan tsunami yaitu Warning Receiver System (WRS) Senin (2/8/2021).

Bantuan WRS tersebut atas permintaan BPBD Kota Banda Aceh ke Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kepala Pelaksana BPBD Kota Banda Aceh Rizal Abdillah, S.Sos M. Si melalui Kepala Bidang kedaruratan dan logistik Drs. Nata Kurniawan Lubis, MM mengatakan bahwa WRS ini hasil permintaan BPBD supaya ditempatkan di sini. Agar apabila terjadi gempa dan berpotensi tsunami maka WRS ini dalam waktu 3 - 4 menit dapat segera menginformasikan kekuatan gempa dan pusat gempa.

“Serta peringatan dini tsunami kepada pejabat yang berwenang dan dapat segera mengambil keputusan untuk disampaikan kepada instansi terkait dan masyarakat agar melakukan evakuasi ketempat yang lebih tinggi dan aman dari tsunami,” kata Nata.

“Makanya saat ini BMKG menanggapi dan juga membantu BPBD sehingga WRS bisa di pasang pada tahun ini. Ini baru diproses untuk pemasangan,” tambahnya.

Untuk selanjutnya setelah diinstal akan dilakukan pelatihan kepada operator dari anggota Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) untuk memfungsikan alat tersebut dan selanjutnya akan mensosialisasikanny

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...