Langsung ke konten utama

KANTIN KEJUJURAN VERSUS PRINSIP 3-2-1







Catatan, Pendidikan, Pernak-pernik, 


Oleh Satria Dharma

Kalau Anda belum tahu apa itu ‘Kantin Kejujuran’ sebaiknya Anda membaca link berikut ini (http://www.diknas-padang.org/mod.phpmod=publisher&op=viewarticle&cid=23&artid=240) atau (http://blogberita.net/2008/03/02/kantin-kejujuran/), lantas setelah itu mari kita membayangkan sebuah kantin sekolah yang sungguh ideal di mana setiap siswa dan guru adalah mahluk-mahluk jujur belaka di mana jika mereka masuk ke kantin sekolah, yang biasanya dijaga oleh istri Pak Bon dengan mata elangnya, tapi yang satu ini tidak dijaga siapa pun kecuali sejumlah malaikat berstatus volunteer yang tidak terlihat dan mendapat tugas khusus untuk mencatat siapa-siapa saja siswa dan guru yang mungkin belum kaffah kejujurannya. Tapi kalau mau ngemplang ya silakan saja. Hebat kan?


Para pembeli di kantin ini tentunya, diharapkan, adalah para siswa dan guru yang memasuki kantin dengan penuh keimanan di dada dan juga harus menguasai matematika (minimal aritmatika dasar penambahan dan perkalian) agar tidak keliru dalam membayar sejumlah uang sesuai dengan makanan, minuman, dan camilan yang mereka konsumsi serta berapa kembaliannya. Tak ada istri Pak Bon dengan mata elang dan kejeniusan aritmatiknya yang akan menghitungkan berapa uang yang harus kita bayar untuk makanan dan minuman yang kita kudap (atau mengingatkan siapa-siapa yang ngeloyor begitu saja tanpa membayar seolah masih sanak famili dari Pak Bon pemilik kantin). Di kantin jenis ini diharapkan siswa tidak menerapkan Prinsip 3-2-1 yang biasanya mereka terapkan di kantin reguler.


Apa itu Prinsip 3-2-1? Mohon jangan membayangkan ini sebagai strategi atau formasi tim LA Lakers karena prinsip ini berbunyi “Makan 3, Ngaku 2, Bayar 1”. Ini adalah semacam kredo siswa-siswa ‘mbeling’ yang mungkin ada di setiap sekolah yang kalau makan di kantin sekolah selalu berusaha untuk menerapkan prinsip ekonomi yang mulia dan agung ‘dengan usaha sekecil-kecilnya mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya’, atau prinsip kreditor klas internasional yang berbunyi “Kalau bisa ngemplang kenapa harus bayar? Apa kata dunia?


Jadi kalau mereka masuk ke kantin mereka akan makan seenaknya dengan cepat (kalau bisa tanpa mengunyah) dan membayar seenaknya pula. Mereka adalah para ‘kreditor’ berdarah dingin yang tidak perduli apakah dengan tindakan mereka tersebut akan membangkrutkan Pak Bon pemilik kantin atau tidak. Mereka juga tidak segan datang berombongan dengan kecepatan kilat dan kerjasama yang rapi untuk menghabiskan kudapan yang tertata rapi di meja kantin sekolah. 


Dengan semangat “Vini, Vidi, Vici” mereka membuat penunggu kantin terbengong-bengong melihat betapa pisang goreng yang semula sudah dihitung baik-baik ada dua puluh biji, tapi kemudian uang yang masuk ke kotak kas cuma senilai lima biji! Tak ada gunanya berdebat dengan siswa-siswa ‘berdarah dingin’ ini karena sulit untuk membuktikan siapa makan apa dan berapa banyak. Mereka akan saling melindungi bak mafioso Italiano. Paling-paling Pak Bon akan menyimpan dendamnya diam-diam seperti biasanya dan bermimpi suatu saat jadi kepala sekolah. Kalau saja dia punya kekuasaan seperti kepala sekolah mungkin siswa-siswa mbeling tersebut sudah ia pecat dari sekolah biar hidupnya ‘ngere’ semua. Kok ya tega-teganya mereka merusak perekonomian mereka yang begitu labil tersebut.


Jadi siswa-siswa ini memang perlu diajari soal kejujuran agar kalau mereka kelak jadi anggota masyarakat yang terhormat mereka tidak lagi berusaha ngemplang dan sabet sana-sini. Indonesia sudah kebanyakan koruptor dan something has to be done. Pelajaran kejujuran itu harus dimulai dari sekolah dan ide tentang ‘Kantin Kejujuran” tersebut sungguh menarik. Begitu menariknya sehingga dengan cepat ide ‘Kantin Kejujuran’ ini diadopsi di mana-mana dan dianggap sebagai sebuah solusi untuk mendidik manusia-manusia Indonesia yang terkenal ‘ndableg pol’ dalam soal korupsi. 


Ide ini berhasil entah dimana, diberitakan dengan penuh gegap gempita, dan dianggap sebagai sebuah cara yang sangat tepat untuk mendidik siswa agar kelak tidak tumbuh menjadi koruptor seperti bapaknya. Untuk itu siswa harus diajari untuk bersikap jujur, tidak boleh ngemplang di kantin, tidak boleh kucing-kucingan dengan Bu Bon bermata elang, dan yang penting diberi kepercayaan bahwa mereka, para anak-anak penerus generasi bangsa tersebut, pastilah bisa lebih jujur ketimbang bapaknya yang koruptor. “Beri aku sepuluh pemuda dan akan aku guncangkan dunia” begitu kata Sukarno dulu. “Beri aku sebuah kantin dan akan aku ubah mereka menjadi anak-anak yang jujur dan beriman belaka” mungkin ini kalimat turunannya. “


Kantin Kejujuran” adalah ide yang sungguh original dan brilian untuk mengubah nasib bangsa yang terpuruk gara-gara korupsi yang sudah dianggap sebagai ‘gawan bayi’! (Paling tidak pada saat dicetuskan dan dibayangkan). Tapi saya sungguh tidak bisa menahan geli ketika muncul berita tentang bangkrutnya sebuah kantin Kejujuran di SMAN Tulungagung yang diresmikan oleh Pak Bupati! Kantin kejujuran SMUN 01 Boyolangu Kabupaten Tulungagung yang di-launching 20 hari lalu bangkrut. Pasalnya, modal awal yang disediakan panitia dan diharapkan bisa mencegah prilaku korupsi sejak dini tak kembali.


Realita ini membuat pihak sekolah memutuskan menutup sementara kantin kejujuran. Salah satu siswa kelas III IPA menuturkan, tidak sedikit dari teman-temanya yang sengaja mengambil untung dalam proyek yang disponsori Kejaksaan itu. Siswa yang tidak jujur dengan leluasa mengambil makanan dan minuman tanpa mau membayar. “Kalaupun membayar, biasanya oknum siswa ini mengambil kembalian uang yang tidak sesuai” lanjutnya. Modal awal sebesar Rp1.500.000, saat ini tinggal Rp. 90.000. Akibatnya kantin kejujuran ini harus ditutup untuk sementara untuk waktu yang tidak ditentukan. Mungkin harus menunggu program ‘bail-out’ dari Pak Bupati.


Sekadar diketahui, kantin kejujuran SMUN 01 Boyolangu ini diresmikan bertepatan dengan peringatan Hari Antikorupsi sedunia. Selain Kejaksaan dan muspida setempat, Bupati Tulungagung Heru Tjahjono beserta seluruh jajarannya menyempatkan hadir dalam acara ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...