Langsung ke konten utama

UNTUK APA GELAR?



Oleh Satria Dharma

Berdomisili di Surabaya


“Orang kan tidak perlu punya gelar untuk bisa sukses, Pak? Jadi untuk apa aku harus kuliah untuk mendapatkan gelar? ”


“Tentu saja. Untuk sukses dalam hidup ini kita tidak perlu punya gelar. Tapi jika kamu bisa kuliah sampai selesai dan memperoleh gelar, maka itu sudah berarti sebuah kesuksesan besar yang kamu capai. Itu berarti kamu telah mampu membuktikan pada dirimu bahwa kamu mampu melewati kesulitan, cobaan, tantangan, rintangan, godaan, selama bertahun-tahun kamu kuliah. Itu membuktikan bahwa kamu memiliki kecerdasan, ketekunan, kedisiplinan dan kesabaran dalam mencapai sebuah tujuan. Gelar itu buktinya. ”

 

“Sekarang kan jamannya sudah berubah Pak. Orang akan lebih menilai kita dari kinerja dan kemampuan kita. Gelar dan ijazah itu apalah artinya di dunia yang semakin datar ini…”


“Gelar yang kamu peroleh memang belum membuktikan bahwa kamu akan mampu melakukan sebuah prestasi besar dalam hidupmu, tapi gelarmu itu akan menjadi semacam pengingat bagi dirimu dan penanda bagi orang lain bahwa kamu telah PERNAH sukses dalam hidupmu. 


Jika kamu tidak memiliki gelar, meskipun mungkin saja kamu punya ilmu yang sama dengan temanmu yang punya gelar, kamu harus bekerja JAUH LEBIH KERAS daripada temanmu yang punya gelar untuk membuktikannya. Mengapa? 


Karena temanmu sudah bekerja keras lebih dahulu dengan menyelesaikan kuliahnya sedangkan kamu tidak. Temanmu punya penanda untuk menunjukkan kapasitasnya sedangkan kamu tidak. Jika kamu mampu menunjukkan kemampuan yang sama dengan temanmu orang akan tetap meragukan kemampuanmu dan lebih percaya pada temanmu. Karena ia punya penanda sedangkan kamu tidak. Kamu juga akan lebih percaya diri dengan gelar yang kamu miliki karena kamu yakin bahwa kamu telah mampu membuktikan diri dengan keberhasilanmu bertahun-tahun menyelesaikan kuliah. Intinya, gelar itu akan memudahkan kamu dalam hal-hal tertentu.


Coba bayangkan situasi ketika kamu ingin memperkenalkan diri pada calon mertua atau calon bosmu. Jika kamu mengatakan bahwa kamu baru saja menyelesaikan Phd di Jepang, maka tiba-tiba semua hal menjadi relevan. Tapi jika kamu mengatakan bahwa kamu tidak menyelesaikan kuliah karena bosan dengan situasi perkuliahan,maka tiba-tiba sikap calmermu akan berubah lebih formal. It's just an example.” :-)


“Lha Bapak sendiri kok tidak pernah mau pakai gelar selama ini? Kan Bapak punya gelar yang bisa dipakai sebagai penanda?”


“Karena Bapak malu gelarnya cuma Drs. Kalau Bapak punya gelar PhD atau Doktor kayaknya Bapak akan pakai deh gelarnya supaya lebih keren.” 😄


DISCLAIMER: 

Meski bisa nulis begini saya sendiri tidak berhasil meyakinkan anak sulung saya utk menyelesaikan kuliahnya. Ia tetap memilih tidak menyelesaikan kuliahnya. 😁


(But it might work with others...) 😎


Surabaya, 7 Agustus 2016

Satria Dharma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...