Langsung ke konten utama

Asal Mula Mukim Cot Saluran



Oleh: Amira Uzlifatul Jannah

Siswi Kelas VIII SMP Fajar Hidayah

 

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil di pinggiran kota kerajaan, hiduplah beberapa Puak keluarga dengan damai. Semuanya aman tenteram tanpa ada yang mengganggu. Sehari-hari, penduduk desa menggarap sawah atau menggembala ternak.


Hari itu, penduduk desa berembuk untuk memperbaiki balai desa. Disepakatilah untuk diadakan gotong royong. Semua orang berbondong-bondong datang dengan alat-alat di tangan. Ada yang membawa cangkul, linggis, parang dan ibu-ibu membawa minuman serta cemilan. Suasana saat itu riuh rendah. Beberapa orang bekerja sambil berdendang. Beberapa lainnya saling bergurau.


Ketika hari menjelang siang, seorang lelaki tua yang tinggal di kebun dekat persawahan sibuk mencangkuli bebatuan di tempat yang akan digunakan untuk peletakan batu pondasi. Ketika ia berusaha mencungkil batu yang tancapannya paling dalam, sedikit air terciprat ke wajahnya.

“Hah, apa ini?” gumamnya.

Lelaki yang kerap disapa Yah Bit itu mempercepat pekerjaannya dan berhasil mengangkat batu tersebut. Ternyata, cekungan bekas batu itu sudah dipenuhi genangan air bersih.

“Apa itu, Yah Bit?” tanya salah satu pemuda desa.

“Sepertinya ini mata air,” celetuk warga yang lain.


Kepala desa memasuki kerumunan dan memeriksa sumber air itu, “Kita biarkan saja dulu. Paling sebentar lagi juga bakal mengering,”

Ucapan kepala desai tu bertentangan dengan yang sesungguhnya terjadi. Beberapa minggu setelah kerja bakti hari itu, air dari mata air itu semakin deras dan kadang-kadang melambung seperti air mancur. Balai desa yang dibuat tepat di sampingnya itu kayunya melapuk karena sering terkena air. Warga mulai resah. Bahkan belakangan ini, mata air itu mulai membentuk genangan air. Balai desa yang dibuat berbentuk panggung itu sudah di kelilingi dengan mata air.


Warga protes ke Yah Bit. Menurut mereka, mata air itu sudah di sumpal para nenek moyang dengan batu besar itu agar tidak membanjiri pemukiman. Tapi Yah Bit malah membuka gerbang menuju kehancuran desa. Yah Bit merasa sedih. Ia merasa bersalah.

“Bagaimana ini? Desa kita bisa tenggelam!”

“Benar! Kalau dibiarkan bisa menjadi telaga bahkan danau!”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?!”

Di tengah ribut-ribut warga, seorang nenek renta yang tinggal di dekat balai desa datang dengan lesung besar di tangannya.


Nek Nyak, begitu biasa disapa, adalah wanita bijak dan sering memberi nasihat untuk orang yang mendatanginya.

“Kalau tetua kita menyumpal mata air ini, maka kita sekarang juga harus menyumpalnya,” kata Nek Nyak. Ia mengangkat lesung dengan susah payah dan menyerahkannya kepada Yah Bit. “Nak, tancapkan lesung ini di asal mata air nya. Lalu, buat aliran agar airnya menuju sawah kita,”

Yah Bit mengangguk dan segera mendatangi tempat ia menemukan mata air itu. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tangannya dan menekan lesung itu. Air yang mengalir tampak surut. Warga lain langsung menggerakkan cangkul dan mengalirkan air ke sawah terdekat.

“Dengan begini, aliran air akan terhambat sehingga tidak ada banjir. Selain itu, air nya masih bisa berguna untuk kita,” ujar Nek Nyak.


Lama setelah itu, aliran air dari mata air itu terus meluas dan menjalar kemana-mana. Kampung-kampung sekitar pun juga mendapat penghidupan dari sana. Lama-kelamaan, aliran itu dijadikan irigasi. Di sekitar situ, penduduk mulai membuat rumah dan mendirikan toko. Kampung-kampung yang berada di sepanjang irigasi itu disebut dengan Cot Saluran. Sekarang, Pemukiman Cot Saluran telah menjadi salah satu dari 3 mukim yang ada di Kecamatan Blang Bintang.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...