Langsung ke konten utama

ACT - MRI Banda Aceh Ajak Komunitas Kolaborasi Peduli Korban Erupsi Semeru

 


 

Banda Aceh – 06/12/21. Potretonline.com. Erupsi Gunung Semeru memakan banyak korban dan menyisakan duka mendalam bagi warga Lumajang. Sebagai wujud solidaritas kemanusiaan dalam mengatasi bencana, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Banda Aceh melakukan galang donasi untuk korban erupsi Gunung Semeru pada Senin (6/12). Galang donasi ini dilakukan di simpang 4 Jambo Tape, Banda Aceh.

Aksi ini dilakukan dari pukul 16.30 hingga pukul 18.00 WIB. 


Terlihat masyarakat Aceh yang berkendara melalui area ini begitu antusias menunjukkan kepeduliannya. Rupiah demi rupiah terkumpul untuk membantu memenuhi keperluan para korban. Nurul Marhamah selaku Ketua MRI Banda Aceh mengungkapkan bahwa dibutuhkan energi yang lebih besar untuk menghimpun kepedulian masyarakat.

“Kita membutuhkan kolaborasi yang lebih luas agar bisa membantu para korban dengan cepat dalam kondisi yang emergency seperti sekarang ini,” tutur Marhamah. Marhamah mengajak komunitas lainnya untuk ikut turut serta tanggap bencana dan melakukan galang donasi bersama ACT dan MRI Banda Aceh.


Selain aksi di Banda Aceh, MRI juga terus berupaya melakukan evakuasi dan membantu para korban di pengungsian bencana yang terjadi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Diketahui bahwa lebih dari lima ribu jiwa harus mengungsi akibat bencana erupsi Gunung Semeru. Berdasarkan informasi terkini, bencana erupsi yang terjadi Sabtu lalu ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia, 69 luka berat, 100 orang luka ringan, dan 2.970 rumah rusak. Para warga yang mengungsi sangat membutuhkan bantuan berupa makanan, pengobatan, perlengkapan bayi, dan sebagainya.

“Bantuan untuk korban erupsi Semeru yang kita terima hanya dalam bentuk uang saja agar lebih mudah, cepat, dan tepat untuk memenuhi kebutuhan di sana,” ucap Marhamah. Ia juga menambahkan bahwa bagi komunitas lain yang ingin berkolaborasi dapat mengirimkan pesan langsung melalui Instagram @act_aceh ataupun @mribandaaceh. “Insya Allah, dengan memperluas jejaring kolaborasi, donasi kepedulian masyarakat Aceh bisa terhimpun lebih cepat dan para korban di Lumajang bisa segera terpenuhi kebutuhannya,” tutup Marhamah. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...